Friday, February 27, 2015

Cinta Selalu Pulang? (1)

Sejak peristiwa itu, malam-malammu menjadi gelisah. Tidurmu antara lelap dan terjaga. Malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan, malam-malam panjang, gerakan tubuh resah, kerinduan, dan helaan napas tertahan.*)
                           
Pukul tiga dini hari tiba-tiba ponselku menjerit memberitahukan adanya pesan yang masuk. Satu pesan, dua pesan, tiga pesan. Aku masih terlelap. Belum puas juga, ponselku lagi-lagi mengeluarkan nyanyiannya, kini lengkingannya semakin lama semakin mengeras. Kali ini bukan sebuah pesan masuk, melainkan satu panggilan yang sesungguhnya teramat singkat pula karena belum sempat kuangkat sudah mati terlebih dahulu.

Kusipitkan mata, mencoba membaca satu per satu pesan masuk terbaru.

Aku gak bisa tidur sama sekali. Otakku dipenuhi rasa bersalah.

Sekali lagi aku minta maaf. Oh, entah berapa kali aku minta maaf padamu, dan berapa kali kamu bilang telah memaafkanku. Tapi tetap, rasa bersalah ini masih saja ada.

Apakah Tuhan juga akan memaafkanku. Ternyata begini rasanya :(

Jemariku sedikit tertatih mengetik balasan pesan di malam menjelang pagi itu.

Ambilah air wudu, kurasa ini waktu yang baik untuk menenangkan diri. Sepertiga malam yang terakhir. Setelahnya, tidurlah. Besok kita akan bertemu, tentunya dengan kondisimu yang lebih baik dari sekarang.

Kumatikan ponsel setelah pesan balasanku terkirim. Bukan maksudku tidak mau menemanimu. Tapi, kurasa yang kamu butuhkan saat ini adalah istirahat. Mendamaikan hati, pikiran, dan tentunya fisikmu juga.

Sejak pertemuan siang tadi---setelah beberapa musim tak pernah bertemu---aku tahu keadaanmu saat ini. Terjerembap dalam kubangan terburuk. Diselubungi berbagai macam rasa bersalah. Lalu, penyesalan yang selamanya memang tinggal penyesalan, membalut segala kekalutan, cukup membuat baju yang kamu kenakan mungkin terasa lebih ketat.

“Terima kasih.” Itu kata-kata terakhirmu tadi siang. Menutup semua pengakuan, penyesalan, dan permintaan-maafmu. Ya, siang tadi kamu telah kembali walau dalam kondisi terburukmu. Mungkin cinta memang akan selalu pulang dengan caranya sendiri-sendiri, batinku.


JOG, En-270215

*) Kutipan novel ‘Sunset Bersama Rosie’ karya Tere Liye



Baca juga Cinta Selalu Pulang? (2)

No comments:

Post a Comment