Wednesday, February 11, 2015

Burung Bangau Ungu

Penulis: Endar Wahyuni

“Selamat ulang tahun, Sayang!” ucap Joe seraya menyodorkan sebuah kotak terbalut kertas kado warna ungu.

“Makasih, Sayang....”

Kuterima kado darinya seraya tersenyum simpul. Joe lantas duduk di sampingku. Sore ini cukup cerah. Sebelumnya, kami berdua memang sepakat bertemu di taman kota. Tak ada kue maupun perayaan. Menikmati sore bersama Joe saja sudah cukup bagiku.

“Buka, deh! Tapi, jangan dilihat dari isinya, ya,” pinta Joe.

Perlahan kubuka kotak berukuran sedang itu. Lantas pandanganku beralih pada Joe yang sedari tadi memperhatikanku. Kukerlingkan mataku, pasang tampang manja. Aku tersenyum simpul melihat kembali isi kotak. Sebuah selimut tebal warna ungu kesukaanku dan...

“Sengaja selimut. Biar setiap malam seolah-olah aku bisa menghangatkanmu,” tutur Joe diikuti gelak tawanya.

“Idiiihhh, gombalan model jaman kapan, tuh?” ledekku. “Kalau ini?” Kuambil beberapa bungkus kertas origami dari dalam kotak tadi.

“Kata orang, kalau kita bisa membuat seribu origami burung bangau, nanti permintaan kita akan terkabul. Nah, aku pengin kita bareng-bareng buatnya. Tapi, sebelum dilipat, kita tulis dulu harapan kita di kertas itu. Satu kertas satu harapan,” terang Joe.

“Mitos!” tukasku.

“Ini bukan tentang mitos. Aku hanya ingin kalau tua nanti, pas kita buka lagi kertasnya, kita bisa ingat lagi masa-masa ini. Selain itu, harapan yang kita tulis bisa jadi penyemangat buat kita sekarang.”

“Iya, iya....”

“Nanti taruh kamarmu saja, ya. Bisa dijadikan hiasan pintu atau jendela, nanti digantung. Gimana?”

“Siap, Sayang!” Kuacungkan jempol dan tersenyum lebar.

“Anak pintar,” goda Joe seraya mencubit hidung mungilku.

Aku berusaha menghindari cubitan Joe, namun gagal. Dia terus saja menggodaku. Kami lantas tertawa bersama.

“Sayang, ayo berangkat sekarang!” Suara Mama dari balik pintu membuyarkan lamunanku tentang kebersamaan dengan Joe beberapa bulan silam.

“Iya, Ma. Tunggu!” Kuseka bulir-bulir bening di pipi.

Rupanya, cukup lama aku menangis sendirian di kamar. Bahkan baju hitam yang kukenakan pun sebagian telah kuyup air mata. Selimut ungu dalam pangkuan pun ikut lembap.

“Ini kertas terakhir, Sayang. Kamu jahat! Membiarkanku menyelesaikan burung-burungan ini sendirian,” ucapku lirih.

Tangisku kembali buncah mengiringi pena yang menari-nari di atas kertas origami berwarna ungu. Kertas terakhir. Artinya, permintaan terakhir yang akan kutulis. Berharap burung-burung ini sampaikan semua pada Tuhan. Dan kelak, entah kapan, entah di dunia atau di surga, Tuhan berkenan mengabulkannya.

JOE, BANGUNLAH, SAYANG! LUPAKAH KAU? HARI INI HARI PERNIKAHAN KITA?

Kulipat kertas ungu itu membentuk burung bangau. Origami terakhir yang telah kami perhitungkan jauh-jauh hari, yang harusnya kami buat bersama.

"Ah, haruskah kusalahkan takdir Tuhan?" gumamku mengingat kecelakaan yang menimpa Joe sepulang dari rumahku semalam.


JOG, En-031214



Lihat juga Flash Fiction lainnya di sini
 

No comments:

Post a Comment