Wanita itu...
Aku hanya menatapnya kelu. Lekat, dalam diam. Entah apa yang
ada dalam benaknya. Sedang aku sendiri tak mampu mendefinisikan apa yang ada
dalam pikiranku.
“Kamu malu? Marah? Marah pada siapa? Pada kenyataan? Ah...,
aku tahu. Kamu pasti canggung.” Suara-suara itu begitu mengganggu setiap aku
bertemu dengannya, wanita itu.
Entah ini pertemuan untuk yang keberapa kalinya. Aku tak
pandai menghitung. Mungkin juga tak berniat mengingat. Mengingat saat-saat
pertemuan dua bola mata itu. Ah..., iya. Sorot yang begitu memesona. Mirip saat
aku masih mencinta.
Harusnya musim yang sudah berlalu itu tak kupanggil lagi.
“Aku tak pernah memanggilnya!” aku meronta.
Tapi, wanita itu...
Satu bersambut dua, layaknya detik bersambut menit dan terus
bersambut. Begitu lama aku melupa. Dan ketika semua hampir sirna...
Wanita itu...
Hancur lebur tembok-tembok kokohku. Berserak bersama ingatan
yang tiba-tiba menjadi nyata di depan mata. Sekuat apa pun aku menghindar, tetap
saja akan selalu terulang.
Wanita itu...
Harusnya ini bukan tentang wanita itu. Tapi tentang relung
yang harus kubasuh dengan bait-bait doa. Juga harapan dalam keikhlasan. Sulit? Memang.
Tapi, harus!
Dan akhirnya, harus kuterima...
“Ada kalanya logika itu akan menyakiti kata hati. Namun, harus
yakin, Tuhan Maha Baik....”
JOG, En-021114
*) Langit biru bersua si rumpun hijau, menyapa wanita dengan
rekahan manismu, bola mata itu tatap mematikanmu, bertemu padanya serupa padamu, menari-nari di kenangan senduku.
No comments:
Post a Comment