Showing posts with label Renungan dan Inspirasi. Show all posts
Showing posts with label Renungan dan Inspirasi. Show all posts

Wednesday, August 20, 2014

Kisah Ayah & Anak Menemukan Surga

Di suatu sore, seorang anak datang kepada ayahnya yang sedang membaca koran…

anak : “Ayah, ayah,” kata sang anak.

“Ada apa Nak?” tanya sang ayah.

“Aku capek, sangat capek. Aku capek karena aku belajar mati-matian untuk mendapat nilai bagus, sedang temanku bisa dapat nilai bagus dengan menyontek. Aku mau menyontek saja! Aku capek. Sangat capek."

"Aku capek karena aku harus terus membantu ibu membersihkan rumah, sedang temanku punya pembantu, aku ingin kita punya pembantu saja! Aku capek, sangat capek."

"Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung. Aku juga ingin jajan terus!
Aku capek, sangat capek, karena aku harus menjaga lisanku untuk tidak menyakiti, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati."

"Aku capek, sangat capek karena aku harus menjaga sikapku untuk menghormati teman- temanku, sedang mereka seenaknya saja bersikap kepadaku."

"Aku capek ayah, aku capek menahan diri. Aku ingin seperti mereka yang terlihat senang, aku ingin bersikap seperti mereka ayah!” Begitu sedihnya, sehingga sang anak pun mulai menangis."

Kemudian sang ayah hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya sambil berkata: ”Anakku, ayo ikut ayah. Ayah akan menunjukkan sesuatu kepadamu.” Lalu sang ayah menarik tangan sang anak, kemudian mereka menyusuri sebuah jalan yang sangat jelek, banyak duri, serangga, lumpur, dan ilalang. 

Lalu sang anak pun mulai mengeluh ”Ayah kita mau kemana sih?? Aku tidak suka jalan ini. Lihat sepatuku jadi kotor, kakiku luka karena tertusuk duri. badanku dikelilingi serangga, berjalanpun susah karena ada banyak ilalang. Aku benci jalan ini ayah!” Sang ayah hanya terdiam. Mereka pun tetap berjalan terus. 

Sampai akhirnya mereka sampai pada sebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu - kupu, bunga bunga yang cantik, dan pepohonan yang rindang.

“Wwaaah… tempat apa ini ayah? Aku suka! Aku suka sekali tempat ini!” Sang ayah hanya diam dan kemudian duduk di bawah pohon yang rindang beralaskan rerumputan hijau.

“Kemarilah anakku, ayo duduk di samping ayah,” ujar sang ayah. Si anak pun ikut duduk di samping ayahnya.

” Anakku, tahukah engkau mengapa di sini begitu sepi? Padahal tempat ini begitu indah?”

” Tidak tahu Ayah, memangnya kenapa?”

“Itu karena orang-orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek tadi, padahal mereka tahu ada telaga di sini, tetapi mereka tidak bisa bersabar dalam menyusuri jalan itu.”

” Ooh… berarti kita orang yang sabar ya, Yah?”

”Nah, akhirnya kau mengerti”

”Mengerti apa? Aku tidak tahu apa yang harus dimengerti”

” Anakku, butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kujujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan, seperti jalan yang tadi."

"Bukankah kau harus sabar saat ada duri melukai kakimu, kau harus sabar saat lumpur mengotori sepatumu, kau harus sabar melawati ilalang dan kau pun harus sabar saat dikelilingi serangga dan akhirnya semuanya terbayarkan? Ada telaga yang sangat indah, seandainya kau tidak sabar, apa yang kau dapat? Kau tidak akan mendapat apa-apa anakku, oleh karena itu bersabarlah anakku.”

” Tapi Ayah, bersabar itu tidak mudah. ”

”Ayah tahu. Oleh karena itu ada ayah yang menggenggam tanganmu agar kau tetap kuat. Begitu pula hidup, ada Ayah dan Ibu yang akan terus berada di sampingmu agar saat kau jatuh, kami bisa mengangkatmu. Tapi ingatlah anakku, kami tidak selamanya bisa mengangkatmu saat kau jatuh, suatu saat nanti, kau harus bisa berdiri sendiri."

"Maka jangan pernah kau gantungkan hidupmu pada orang lain, jadilah dirimu sendiri. Jadilah pribadi yang kuat, yang tetap tabah dan tawakkal karena kau tahu ada Tuhan di sampingmu. Maka kau akan dapati dirimu tetap berjalan menyusuri kehidupan saat yang lain memutuskan untuk berhenti dan pulang. Nah, kau tahu akhirnya kan?”

”Ya Ayah, aku tahu.. Aku akan mendapat surga yang indah yang lebih indah dari telaga ini. Sekarang aku mengerti. Terima kasih Ayah, aku akan tegar saat yang lain terlempar.” Sang ayah hanya tersenyum.





Friday, August 15, 2014

8 Pesan Ibu Untuk Anak Lelakinya: Nikahilah Wanita Yang.....

Seorang ibu selalu ingin yang terbaik untuk anak-anaknya. Saat sang anak sudah memasuki usia dewasa dan sudah waktunya menikah, ada banyak keinginan agar mereka menikah dengan orang yang tepat. Seorang ibu yang memiliki anak laki-laki pasti ingin agar anaknya menemukan wanita yang bisa memberi cinta dan perhatian sebaik dirinya, seperti ibu yang satu ini.

Meskipun ini untuk pria, kamu sebagai wanita juga bisa membacanya, sebagai bekal, menantu seperti apa sih yang diinginkan seorang ibu mertua. Inilah kualitas istri idaman bagi pria yang selalu menghormati ibunya.

Hai putra-putraku,

Inilah pesan ibu..

1. Menikahlan dengan seseorang yang kamu cintai sepenuh hatimu. Seseorang yang dapat membuatmu lebih baik, secara emosional, intelektual dan secara seksual. Seseorang yang yang kamu pilih tidak dapat mengubahmu, tapi dia bisa membantumu mengubah dirimu menjadi manusia yang lebih baik.

2. Menikahlah dengan wanita yang bisa menjadi sahabat baikmu. Carilah wanita yang bisa berbagi hal-hal paling kecil, hingga rencana terbesar dalam hidupmu. Menikahlah dengan wanita yang tidak pernah bosan bersamamu, bahkan hingga akhir hayatmu nanti.

3. Menikahlah di saat yang paling tepat untukmu, karena setiap manusia memiliki waktunya sendiri-sendiri. Jangan pernah menikah karena terpaksa atau apa kata orang. Menikahlah setelah kamu menemukan orang yang tepat.

4. Carilah seorang wanita yang bisa membagi impian yang sama denganmu, tetapi dia juga memiliki impian sendiri yang juga kamu dukung. Hormati dia dan dukung apa impiannya. Selalu utamakan kompromi, namun jangan biarkan impian pernikahan kalian tersesat.

5. Jika wanita ini lucu dan bisa membuatmu tertawa, pilihlah dia. Jangan nikahi wanita yang tidak serius dengan hidupnya, karena hidupmu juga akan kacau. Tapi nikahilah wanita yang mau tertawa dan bercanda denganmu, karena hidup kadang terlalu keras, kamu butuh teman untuk tertawa bersama.

6. Menikahkah dengan wanita yang memiliki hati tulus dan kebaikan hati. Wanita yang tidak takut mencintai dan dicintai. Seorang wanita yang bisa mandiri, tetapi juga menghormatimu. Dia tidak berjalan di depanmu atau di belakangmu, tetapi dia berjalan di sampingmu, menggandeng tanganmu, saling menopang dalam suka dan duka.

7. Carilah wanita yang bisa membawamu ke arah yang lebih baik. Hanya kamu yang bisa mengubah dirimu, tapi jika kamu memiliki pasangan yang tahu kemana harus berjalan, dia akan membantumu menjadi manusia yang lebih baik, tanpa harus berteriak padamu. Jika kamu menemukan wanita seperti ini, selalu ucapkan terima kasih padanya dan berikan dia cinta, setiap hari. Karena seorang istri adalah harta paling berharga untuk berbagi hidup denganmu.

8. Jika kamu sudah menemukannya, jadikanlah dirimu sebagai suami dan ayah terhebat. Ingat! Anak-anak tidak menuruti apa yang kamu katakan, tetapi meniru apa yang kamu lakukan.

Itulah keinginan ibu, semua yang terbaik untukmu. Dulu kamu masih begitu kecil, tapi sekarang sudah waktunya ibu melepasmu. Satu pesan ibu, selalu katakan pada istrimu bahwa "Wanita yang saya nikahi adalah wanita paling beruntung di dunia", katakan hal itu dan wujudkan. Maka percayalah, pernikahan dan cinta abadi tak hanya ada di dunia dongeng.

Ibu mencintai kalian, sebesar langit dan bumi.

Maknai setiap kata-kata dalam surat di atas. Jika kamu ingin mendapat suami yang terbaik, maka kamu harus terlebih dahulu menjadi orang yang terbaik untuk diri kamu sendiri. Semoga kamu bisa mendapat gambaran seperti apa tipe wanita yang paling didambakan pria.




===========================

Dapat sebuah postingan bagus dari Google+
Terimakasih buat yang sudah posting, ijin copas ya.. ^_^

Saturday, May 4, 2013

10 Tweet Inspirasi Terakhir Ustaz Jeffry Al Buchori

Lahir di Jakarta, 12 April 1973, Jeffry Al Buchori dikenal sebagai seorang pendakwah yang mengemas bahasa dakwahnya dengan bahasa-bahasa gaul. Ustaz yang akrab dipanggil Uje ini kemudian kerap dikenal sebagai ustaz gaul.
Mengalami kecelakaan kendaraan bermotor pada 26 April 2013 di Pondok Indah, Uje menutup usia hanya beberapa hari setelah merayakan ulang tahun yang ke-40.

Melalui akun Twitternya @jefri_buchori berikut adalah 10 inspirasi terakhir yang terus menerus ingin disebarkannya demi mengumandangkan Islam itu damai.


"Pada akhirnya.. Semua akan menemukan yg namanya titik jenuh.. Dan pada saat itu.. Kembali adalah yg terbaik.. Kembali pada siapa..??? Kpd "DIA" pastinya.. Bismi_KA Allohumma ahya wa amuut.." 


"Yang paling banyak aku sembunyikan adalah keburukanku.. Dan yang paling banyak aku tampakkan adalah kebaikanku.." 


"Diri ini selalu ingin kelihatan baik di mata manusia yang lain.. Padahal begitu jelas keburukannya di mataMU.. Ampuni aku.. Ampuni aku.." 


"Kenapa manusia nggak boleh berlama-lama menanam kebencian, dendam dan kemarahan, khawatir nggak ada umur, kemudian mati membawa itu semua, na'udzu billah" 


"Kemarahan bisa membuat seseorang menjadi hina..
Hina dlm perbuatan..
Kemarahan bisa membuat seseorang menjadi buruk..
Buruk dlm sangkaan.." 


"Gak ada satupun manusia yang gak pernah berbuat salah.. Lalu kenapa jadi sulit untuk memaafkan orang yang telah berbuat salah kepada dirinya.." 


"Pada dasarnya manusia itu makhluk yang memiliki sifat lemah lembut&cerdas, hanya saja dalam perjalanannya nafsu yang tidak baik telah mengotorinya" 


"Kebenaran itu mengajak bukan menginjak, merangkul bukan memukul, memeluk bukan menekuk, munculkan harapan bukan mupuskan harapan, tidak merasa lebih baik" 


"Berhati-hatilah kpd orang dengki, apapun akan menjadi salah di hadapannya, orang dengki tidak pernah menyadari kedengkiannya, kecuali ada hidayah" 


"Memberi maaf tidak harus menunggu yang salah meminta maaf.. itulah kemuliaannya.." 



Sumber: vemale.com

Friday, March 8, 2013

Ketika Segalanya Telah Berakhir

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Sebuah salah pengertian yg mengakibatkan kehancuran sebuah rumah tangga. Tatkala nilai akhir sebuah kehidupan sudah terbuka, tetapi segalanya sudah terlambat..

Membawa nenek utk tinggal bersama menghabiskan masa tuanya bersama kami, malah telah menghianati ikrar cinta yg telah kami buat selama ini, setelah 2 tahun menikah, saya dan suami setuju menjemput nenek di kampung utk tinggal bersama.

Sejak kecil suami saya telah kehilangan ayahnya, dia adalah satu-satunya harapan nenek, nenek pula yg membesarkannya dan menyekolahkan dia hingga tamat kuliah. Saya terus mengangguk tanda setuju, kami segera menyiapkan sebuah kamar yg menghadap taman untuk nenek, agar dia dapat berjemur, menanam bunga dan sebagainya. Suami berdiri didepan kamar yg sangat kaya dgn sinar matahari, tidak sepatah katapun yg terucap tiba-tiba saja dia mengangkat saya dan memutar-mutar saya seperti adegan dalam film India dan berkata : ”Mari, kita jemput nenek di kampung.”

Suami berbadan tinggi besar, aku suka sekali menyandarkan kepalaku ke dadanya yg bidang, ada suatu perasaan nyaman dan aman disana. Aku seperti sebuah boneka kecil yg kapan saja bisa diangkat dan dimasukan kedalam kantongnya. Kalau terjadi selisih paham diantara kami, dia suka tiba-tiba mengangkatku tinggi-tinggi diatas kepalanya dan diputar-putar sampai aku berteriak ketakutan baru diturunkan. Aku sungguh menikmati saat-saat seperti itu.

Kebiasaan nenek di kampung tidak berubah. Aku suka sekali menghias rumah dengan bunga segar, sampai akhirnya nenek tidak tahan lagi dan berkata kepada suami: ”Istri kamu hidup foya-foya, buat apa beli bunga? Kan bunga tidak bisa dimakan?” Aku menjelaskannya kepada nenek: ”Ibu, rumah dengan bunga segar membuat rumah terasa lebih nyaman dan suasana hati lebih gembira. ”Nenek berlalu sambil mendumel, suamiku berkata sambil tertawa: “Ibu, ini kebiasaan orang kota, lambat laun ibu akan terbiasa juga.”

Nenek tidak protes lagi, tetapi setiap kali melihatku pulang sambil membawa bunga, dia tidak bisa menahan diri untuk bertanya berapa harga bunga itu, setiap mendengar jawabanku dia selalu mencibir sambil menggeleng-gelengkan kepala. Setiap membawa pulang barang belanjaan, dia selalu tanya itu berapa harganya, ini berapa. Setiap aku jawab, dia selalu berdecak dengan suara keras. Suamiku memencet hidungku sambil berkata: ”Putriku, kan kamu bisa berbohong. Jangan katakan harga yang sebenarnya.” Lambat laun, keharmonisan dalam rumah tanggaku mulai terusik.

Nenek sangat tidak bisa menerima melihat suamiku bangun pagi menyiapkan sarapan pagi untuk dia sendiri, di mata nenek seorang anak laki-laki masuk ke dapur adalah hal yang sangat memalukan. Di meja makan, wajah nenek selalu cemberut dan aku sengaja seperti tidak mengetahuinya. Nenek selalu membuat bunyi-bunyian dengan alat makan seperti sumpit dan sendok, itulah cara dia protes.

Aku adalah instrukstur tari, seharian terus menari membuat badanku sangat letih, aku tidak ingin membuang waktu istirahatku dengan bangun pagi apalagi disaat musim dingin. Nenek kadang juga suka membantuku di dapur, tetapi makin dibantu aku menjadi semakin repot, misalnya; dia suka menyimpan semua kantong-kantong bekas belanjaan, dikumpulkan bisa untuk dijual katanya. Jadilah rumahku seperti tempat pemulungan kantong plastik, dimana-mana terlihat kantong plastik besar tempat semua kumpulan kantong plastik.

Kebiasaan nenek mencuci piring bekas makan tidak menggunakan cairan pencuci, agar supaya dia tidak tersinggung, aku selalu mencucinya sekali lagi pada saat dia sudah tidur. Suatu hari, nenek mendapati aku sedang mencuci piring malam harinya, dia segera masuk ke kamar sambil membanting pintu dan menangis. Suamiku jadi serba salah, malam itu kami tidur seperti orang bisu, aku coba bermanja-manja dengan dia, tetapi dia tidak perduli. Aku menjadi kecewa dan marah. ”Apa salahku?” Dia melotot sambil berkata: ”Kenapa tidak kamu biarkan saja? Apakah memakan dengan pring itu bisa membuatmu mati?”

Aku dan nenek tidak bertegur sapa untuk waktu yg culup lama, suasana mejadi kaku. Suamiku menjadi sangat kikuk, tidak tahu harus berpihak pada siapa? Nenek tidak lagi membiarkan suamiku masuk ke dapur, setiap pagi dia selalu bangun lebih pagi dan menyiapkan sarapan untuknya, suatu kebahagiaan terpancar di wajahnya jika melihat suamiku makan dengan lahap, dengan sinar mata yang seakan mencemohku sewaktu melihat padaku, seakan berkata dimana tanggung jawabmu sebagai seorang istri? Demi menjaga suasana pagi hari tidak terganggu, aku selalu membeli makanan diluar pada saat berangkat kerja. Saat tidur, suami berkata: ”Lu di, apakah kamu merasa masakan ibu tidak enak dan tidak bersih sehingga kamu tidak pernah makan di rumah?” sambil memunggungiku dia berkata tanpa menghiraukan air mata yg mengalir di kedua belah pipiku. Dan dia akhirnya berkata: ”Anggaplah ini sebuah permintaanku, makanlah bersama kami setiap pagi.” Aku mengiyakannya dan kembali ke meja makan yg serba canggung itu.

Pagi itu nenek memasak bubur, kami sedang makan dan tiba-tiba ada suatu perasaan yg sangat mual menimpaku, seakan-akan isi perut mau keluar semua. Aku menahannya sambil berlari ke kamar mandi, sampai disana aku segera mengeluarkan semua isi perut. Setelah agak reda, aku melihat suamiku berdiri didepan pintu kamar mandi dan memandangku dengan sinar mata yg tajam, diluar sana terdengar suara tangisan nenek dan berkata-kata dengan bahasa daerahnya. Aku terdiam dan terbengong tanpa bisa berkata-kata. Sungguh bukan sengaja aku berbuat demikian!.Pertama kali dalam perkawinanku, aku bertengkar hebat dengan suamiku, nenek melihat kami dengan mata merah dan berjalan menjauh……suamiku segera mengejarnya keluar rumah.

Menyambut anggota baru tetapi dibayar dengan nyawa nenek. Selama 3 hari suamiku tidak pulang ke rumah dan tidak juga meneleponku. Aku sangat kecewa, semenjak kedatangan nenek di rumah ini, aku sudah banyak mengalah, mau bagaimana lagi? Entah kenapa aku selalu merasa mual dan kehilangan nafsu makan ditambah lagi dengan keadaan rumahku yang kacau, sungguh sangat menyebalkan. Akhirnya teman sekerjaku berkata: ”Lu Di, sebaiknya kamu periksa ke dokter.” Hasil pemeriksaan menyatakan aku sedang hamil. Aku baru sadar mengapa aku mual-mual pagi itu. Sebuah berita gembira yg terselip juga kesedihan. Mengapa suami dan nenek sebagai orang yg berpengalaman tidak berpikir sampai sejauh itu?

Di pintu masuk rumah sakit aku melihat suamiku, 3 hari tidak bertemu dia berubah drastis, muka kusut kurang tidur, aku ingin segera berlalu tetapi rasa iba membuatku tertegun dan memanggilnya. Dia melihat ke arahku tetapi seakan akan tidak mengenaliku lagi, pandangan matanya penuh dengan kebencian dan itu melukaiku. Aku berkata pada diriku sendiri, jangan lagi melihatnya dan segera memanggil taksi. Padahal aku ingin memberitahunya bahwa kami akan segera memiliki seorang anak. Dan berharap aku akan diangkatnya tinggi-tinggi dan diputar-putar sampai aku minta ampun tetapi….. mimpiku tidak menjadi kenyataan. Didalam taksi air mataku mengalir dengan deras. Mengapa kesalah pahaman ini berakibat sangat buruk?

Sampai di rumah aku berbaring di ranjang memikirkan peristiwa tadi, memikirkan sinar matanya yg penuh dengan kebencian, aku menangis dengan sedihnya. Tengah malam,aku mendengar suara orang membuka laci, aku menyalakan lampu dan melihat dia dgn wajah berlinang air mata sedang mengambil uang dan buku tabungannya. Aku nenatapnya dengan dingin tanpa berkata-kata. Dia seperti tidak melihatku saja dan segera berlalu. Sepertinya dia sudah memutuskan utk meninggalkan aku. Sungguh lelaki yg sangat picik, dalam saat begini dia masih bisa membedakan antara cinta dengan uang. Aku tersenyum sambil menitikan air mata.

Aku tidak masuk kerja keesokan harinya, aku ingin secepatnya membereskan masalah ini, aku akan membicarakan semua masalah ini dan pergi mencarinya di kantornya. Di kantornya aku bertemu dengan seketarisnya yg melihatku dengan wajah bingung.” Ibunya pak direktur baru saja mengalami kecelakaan lalu lintas dan sedang berada di rumah sakit. Mulutku terbuka lebar. Aku segera menuju rumah sakit dan saat menemukannya, nenek sudah meninggal. Suamiku tidak pernah menatapku, wajahnya kaku. Aku memandang jasad nenek yg terbujur kaku. Sambil menangis aku menjerit dalam hati: ”Tuhan, mengapa ini bisa terjadi?” Sampai selesai upacara pemakaman, suamiku tidak pernah bertegur sapa denganku, jika memandangku selalu dengan pandangan penuh dengan kebencian.

Peristiwa kecelakaan itu aku juga tahu dari orang lain, pagi itu nenek berjalan ke arah terminal, rupanya dia mau kembali ke kampung. Suamiku mengejar sambil berlari, nenek juga berlari makin cepat sampai tidak melihat sebuah bus yg datang ke arahnya dengan kencang. Aku baru mengerti mengapa pandangan suamiku penuh dengan kebencian. Jika aku tidak muntah pagi itu, jika kami tidak bertengkar, jika…….. ….dimatanya, akulah penyebab kematian nenek.

Suamiku pindah ke kamar nenek, setiap malam pulang kerja dengan badan penuh dengan bau asap rokok dan alkohol. Aku merasa bersalah tetapi juga merasa harga diriku terinjak-injak. Aku ingin menjelaskan bahwa semua ini bukan salahku dan juga memberitahunya bahwa kami akan segera mempunyai anak. Tetapi melihat sinar matanya, aku tidak pernah menjelaskan masalah ini. Aku rela dipukul atau dimaki-maki olehnya walaupun ini bukan salahku. Waktu berlalu dengan sangat lambat.Kami hidup serumah tetapi seperti tidak mengenal satu sama lain. Dia pulang makin larut malam. Suasana tegang didalam rumah.

Suatu hari, aku berjalan melewati sebuah café, melalui keremangan lampu dan kisi-kisi jendela, aku melihat suamiku dengan seorang wanita didalam. Dia sedang menyibak rambut sang gadis dengan mesra. Aku tertegun dan mengerti apa yg telah terjadi. Aku masuk kedalam dan berdiri di depan mereka sambil menatap tajam kearahnya. Aku tidak menangis juga tidak berkata apapun karena aku juga tidak tahu harus berkata apa. Sang gadis melihatku dan ke arah suamiku dan segera hendak berlalu. Tetapi dicegah oleh suamiku dan menatap kembali ke arahku dengan sinar mata yg tidak kalah tajam dariku. Suara detak jangtungku terasa sangat keras, setiap detak suara seperti suara menuju kematian.

Akhirnya aku mengalah dan berlalu dari hadapan mereka, jika tidak.. mungkin aku akan jatuh bersama bayiku dihadapan mereka. Malam itu dia tidak pulang ke rumah. Seakan menjelaskan padaku apa yang telah terjadi. Sepeninggal nenek, rajutan cinta kasih kami juga sepertinya telah berakhir. Dia tidak kembali lagi ke rumah, kadang sewaktu pulang ke rumah, aku mendapati lemari seperti bekas dibongkar. Aku tahu dia kembali mengambil barang-barang keperluannya. Aku tidak ingin menelepon dia walaupun kadang terbersit suatu keinginan untuk menjelaskan semua ini. Tetapi itu tidak terjadi….. …., semua berlalu begitu saja.

Aku mulai hidup seorang diri, pergi check kandungan seorang diri. Setiap kali melihat sepasang suami istri sedang check kandungan bersama, hati ini serasa hancur. Teman-teman menyarankan agar aku membuang saja bayi ini, tetapi aku seperti orang yg sedang histeris mempertahankan miliknya. Hitung-hitung sebagai pembuktian kepada nenek bahwa aku tidak bersalah.

“Suatu hari pulang kerja, aku melihat dia duduk didepan ruang tamu. Ruangan penuh dengan asap rokok dan ada selembar kertas diatas meja, tidak perlu tanya aku juga tahu surat apa itu. 2 bulan hidup sendiri, aku sudah bisa mengontrol emosi. Sambil membuka mantel dan topi aku berkata kepadanya: "Tunggu sebentar, aku akan segera menanda tanganinya.” Dia melihatku dengan pandangan awut-awutan demikian juga aku. Aku berkata pada diri sendiri, jangan menangis, jangan menangis. Mata ini terasa sakit sekali tetapi aku terus bertahan agar air mata ini tidak keluar.

Selesai membuka mantel, aku berjalan ke arahnya dan ternyata dia memperhatikan perutku yg agak membuncit. Sambil duduk di kursi, aku menanda tangani surat itu dan menyodorkan kepadanya.”" Lu Di, kamu hamil?”" Semenjak nenek meninggal, itulah pertama kali dia berbicara kepadaku. Aku tidak bisa lagi membendung air mataku yg menglir keluar dengan derasnya. Aku menjawab:”"Iya, tetapi tidak apa-apa. Kamu sudah boleh pergi”". Dia tidak pergi, dalam keremangan ruangan kami saling berpandangan. Perlahan-lahan dia membungkukan badannya ke tanganku, air matanya terasa menembus lengan bajuku. Tetapi di lubuk hatiku, semua sudah berlalu, banyak hal yg sudah pergi dan tidak bisa diambil kembali. “Entah sudah berapa kali aku mendengar dia mengucapkan kata: ”Maafkan aku, maafkan aku”. Aku pernah berpikir untuk memaafkannya tetapi tidak bisa. Tatapan matanya di cafe itu tidak akan pernah aku lupakan. Cinta diantara kami telah ada sebuah luka yg menganga. Semua ini adalah sebuah akibat kesengajaan darinya.

Berharap dinding es itu akan mencair, tetapi yang telah berlalu tidak akan pernah kembali. Hanya sewaktu memikirkan bayiku, aku bisa bertahan untuk terus hidup. Terhadapnya, hatiku dingin bagaikan es, tidak pernah menyentuh semua makanan pembelian dia, tidak menerima semua hadiah pemberiannya tidak juga berbicara lagi dengannya. Sejak menanda tangani surat itu, semua cintaku padanya sudah berlalu, harapanku telah lenyap tidak berbekas.

Kadang dia mencoba masuk ke kamar untuk tidur bersamaku, aku segera berlalu ke ruang tamu, dia terpaksa kembali ke kamar nenek. Malam hari, terdengar suara orang mengerang dari kamar nenek tetapi aku tidak perduli. Itu adalah permainan dia dari dulu. Jika aku tidak perduli padanya, dia akan berpura-pura sakit sampai aku menghampirinya dan bertanya apa yang sakit. Dia lalu akan memelukku sambil tertawa terbahak-bahak. Dia lupa…….. , itu adalah dulu, saat cintaku masih membara, sekarang apa lagi yg aku miliki?

Begitu seterusnya, setiap malam aku mendengar suara orang mengerang sampai anakku lahir. Hampir setiap hari dia selalu membeli barang-barang perlengkapan bayi, perlengkapan anak-anak dan buku-buku bacaan untuk anak-anak. Setumpuk demi setumpuk sampai kamarnya penuh sesak dengan barang-barang. Aku tahu dia mencoba menarik simpatiku tetapi aku tidak bergeming. Terpaksa dia mengurung diri dalam kamar, malam hari dari kamarnya selalu terdengar suara pencetan keyboard komputer. Mungkin dia lagi tergila-gila chatting dan berpacaran di dunia maya pikirku. Bagiku itu bukan lagi suatu masalah.

Suatu malam di musim semi, perutku tiba-tiba terasa sangat sakit dan aku berteriak dengan suara yg keras. Dia segera berlari masuk ke kamar, sepertinya dia tidak pernah tidur. Saat inilah yg ditunggu-tunggu olehnya. Aku digendongnya dan berlari mencari taksi ke rumah sakit. Sepanjang jalan, dia mengenggam dengan erat tanganku, menghapus keringat dingin yg mengalir di dahiku. Sampai di rumah sakit, aku segera digendongnya menuju ruang bersalin. Di punggungnya yg kurus kering, aku terbaring dengan hangat dalam dekapannya. Sepanjang hidupku, siapa lagi yg mencintaiku sedemikian rupa jika bukan dia?

Sampai dipintu ruang bersalin, dia memandangku dengan tatapan penuh kasih sayang saat aku didorong menuju persalinan, sambil menahan sakit aku masih sempat tersenyum padanya. Keluar dari ruang bersalin, dia memandang aku dan anakku dengan wajah penuh dengan air mata sambil tersenyum bahagia. Aku memegang tangannya, dia membalas memandangku dengan bahagia, tersenyum dan menangis lalu terjerambab ke lantai. Aku berteriak histeris memanggil namanya.

Setelah sadar, dia tersenyum tetapi tidak bisa membuka matanya………aku pernah berpikir tidak akan lagi meneteskan sebutir air matapun untuknya, tetapi kenyataannya tidak demikian, aku tidak pernah merasakan sesakit saat ini. Kata dokter, kanker hatinya sudah sampai pada stadium mematikan, bisa bertahan sampai hari ini sudah merupakan sebuah mukjijat. Aku tanya kapankah kanker itu terdeteksi? 5 bulan yg lalu kata dokter, bersiap-siaplah menghadapi kemungkinan terburuk. Aku tidak lagi perduli dengan nasehat perawat, aku segera pulang ke rumah dan ke kamar nenek lalu menyalakan komputer.

Ternyata selama ini suara orang mengerang adalah benar apa adanya, aku masih berpikir dia sedang bersandiwara…………Sebuah surat yg sangat panjang ada di dalam komputer yg ditujukan kepada anak kami.” Anakku, demi dirimu aku terus bertahan, sampai aku bisa melihatmu. Itu adalah harapanku. Aku tahu dalam hidup ini, kita akan menghadapi semua bentuk kebahagiaan dan kekecewaan, sungguh bahagia jika aku bisa melaluinya bersamamu tetapi ayah tidak mempunyai kesempatan untuk itu. Didalam komputer ini, ayah mencoba memberikan saran dan nasehat terhadap segala kemungkinan hidup yg akan kamu hadapi. Kamu boleh mempertimbangkan saran ayah. “”"Anakku, selesai menulis surat ini, ayah merasa telah menemanimu hidup selama bertahun -tahun. Ayah sungguh bahagia. Cintailah ibumu, dia sungguh menderita, dia adalah orang yg paling mencintaimu dan adalah orang yg paling ayah cintai”".

Mulai dari kejadian yg mungkin akan terjadi sejak TK, SD, SMP, SMA sampai kuliah, semua tertulis dengan lengkap didalamnya. Dia juga menulis sebuah surat untukku.

“”Kasihku, dapat menikahimu adalah hal yg paling bahagia aku rasakan dalam hidup ini. Maafkan salahku, maafkan aku tidak pernah memberitahumu tentang penyakitku. Aku tidak mau kesehatan bayi kita terganggu oleh karenanya. Kasihku, jika engkau menangis sewaktu membaca surat ini, berarti kau telah memaafkan aku. Terima kasih atas cintamu padaku selama ini. Hadiah-hadiah ini aku tidak punya kesempatan untuk memberikannya pada anak kita. Pada bungkusan hadiah tertulis semua tahun pemberian padanya”".”

Kembali ke rumah sakit, suamiku masih terbaring lemah. Aku menggendong anak kami dan membaringkannya diatas dadanya sambil berkata: “Sayang, bukalah matamu sebentar saja, lihatlah anak kita. Aku mau dia merasakan kasih sayang dan hangatnya pelukan ayahnya.” Dengan susah payah dia membuka matanya, tersenyum… ……… ..anak itu tetap dalam dekapannya, dengan tangannya yg mungil memegangi tangan ayahnya yg kurus dan lemah. Tidak tahu aku sudah menjepret berapa kali momen itu dengan kamera di tangan sambil berurai air mata……..

Sahabat Pembaca yg terkasih, saya sharing cerita ini kepada kalian, agar kita semua bisa menyimak pesan dari cerita ini.Mungkin saat ini air mata kalian sedang jatuh mengalir atau mata masih sembab sehabis menangis, ingatlah pesan dari cerita ini : ”Jika ada sesuatu yg mengganjal di hati diantara kalian yg saling mengasihi, sebaiknya utarakanlah jangan simpan didalam hati. Siapa tau apa yg akan terjadi besok? Ada sebuah pertanyaan: Jika kita tahu besok adalah hari kiamat, apakah kita akan menyesali semua hal yg telah kita perbuat? atau apa yg telah kita ucapkan? Sebelum segalanya menjadi terlambat, pikirlah matang2 semua yg akan kita lakukan sebelum kita menyesalinya seumur hidup.

Sunday, February 3, 2013

6 Inspirasi Gaya Jilbab ala Zaskia Adya Mecca

Anda pasti kenal wanita cantik yang satu ini. Dulu, Zaskia Adya Mecca adalah bintang sinetron remaja. Keputusannya untuk memakai jilbab membuat banyak orang semakin jatuh hati padanya.
Sekarang, Zaskia sudah menjadi ibu muda, penampilannya tetap santun dan fashionable. Beberapa potret istri Hanung Bramantyo kami kumpulkan untuk melihat gaya jilbab yang bisa Anda tiru. Zaskia seringkali memakai jilbab yang fun, santai dan tidak ribet.



 

Memadukan warna bawahan dan jilbab adalah ide yang cerdas. Penampilan Zaskia tampak cantik karena semua atribut yang dia pakai polos tanpa motif. Pemilihan warna merah dan jingga lembut membuat penampilannya cerah. Tambahan kalung etnik membuat pakaian polos Zaskia tidak tampak membosankan.



 

Penampilan Zasia kali ini adalah jilbab polkadot merah putih. Trik ini bisa Anda pakai jika Atasan dan bawahan yang Anda pakai berwarna netral dan 'sendu', misalnya hitam, cokelat, cokelat pasir, biru gelap dan sebagainya. Untuk memberi kesan cerah pada penampilan, pemakaian jilbab warna cerah sangat membantu.




 

Warna hitam tidak selalu berkesan suram jika Anda bisa memadukan warna dengan tepat. Penampilan Zaskia kali ini sangat sederhana tapi keren. Inner warna cokelat karamel dipadukan dengan hijab hitam, atasan hitam dan bawahan warna cokelat pasir. Penampilan ini cocok untuk acara kasual dan santai.




 

Kembali Zaskia memadukan warna hijab yang sama dengan warna bawahannya. Penampilan ibu muda cantik ini tidak terkesan suram karena kaos yang dia pakai berwarna biru menyala. Pemakaian cardigan model batwing warna putih gading membuat penampilan Zaskia makin segar tanpa kesan tabrak warna terlalu banyak.




 

Atasan lengan batwing putih gading dipadukan dengan celana cokelat dan jilbab warna cokelat yang hampir sama dengan bawahan. Tampaknya Zaskia memang suka dengan konsep bawahan dan jilbab yang sama. Pemakaian kalung membuat atasan yang polos terlihat tidak membosankan.




 

Penampilan kali ini manis bukan? Zaskia memadukan warna ungu dan merah muda dalam gradasi yang cantik. Terusan warna merah muda pucat dipadukan dengan cardigan tanpa lengan warna ungu. Pashmina yang dipakai memiliki gradasi warna merah muda dan ungu. Sehingga dalam sekali pakai, muncul dua warna yang sesuai dengan pakaian. Bisa dicoba nih gayanya..






Sumber: vemale.com

Gaya Hijab Artis Muda Indonesia: Penuh Warna, Cantik dan Anggun




 

 


  Gaya Hijab Risty Tagor 

 

 

 

 

 

 

  

 

 

 

 

 

 

 

 

Ibu muda yang satu ini memberi penampilan cerah pada pakaian dan jilbabnya. Terusan warna jingga dilapisi dengan cardigan warna hijau. Jilbab motif bunga yang senada dengan terusannya membuat Risty makin cantik.


 


Gaya Hijab Nuri Maulida


 

Gadis cantik ini memakai nuansa ungu. Atasan ungu muda, bawahan berupa rok warna ungu tua. Motif bunga kecil yang senada dengan pakaian membuat Nuri tampil cantik. Tambahkan headband dan gelang untuk pelengkap penampilan

 

Gaya Hijab Zaskia Sungkar

 

Walaupun sedang tersandung masalah hukum akibat dugaan penggunaan narkoba, penampilan Zaskia Sungkar kali ini bisa Anda tiru. Terusan motif zig zag warna hitam putih membuatnya tampil anggun. Jangan lupa sematkan ikat pinggang mungil agar penampilan makin rapi.

 

Gaya Hijab Meyda Sefira

 

Gadis manis yang menjadi pemain film Ketika Cinta Bertasbih tampil cantik dalam balutan busana muslim merah jingga yang senada dengan hijab yang dipakai. Memakai kaftan yang simpel dan tidak banyak manik/metalik adalah kunci tampil tetap muda dan tidak terkesan 'ibu-ibu'.

 

Gaya Hijab Oki Setiana Dewi

 

Pemain film dan sinetron Ketika Cinta Bertasbih ini selalu tampil santun. Lihat saja penampilan Oki dalam baluran busana muslim silver dan hijab ungu metalik yang menutup dada. Anda bisa meniru gaya ini untuk menghadiri acara formal atau pesta pernikahan. Tidak ribet, tapi cantik.


Sumber: vemale.com


Sunday, January 27, 2013

Pesan Bunda Untuk Putrinya Yang Hendak Membina Rumah Tangga

Saudariku muslimah, ada baiknya kita simak kembali pesan Asma binti Kharijah Al-Fazari untuk putrinya yang hendak membina rumah tangga berikut ini:


Wahai putriku, kini engkau telah keluar dari sarang tempat engkau dahulu dilahirkan hingga engkau menjadi besar...


Kini engkau akan berpindah ke tempat dan keadaan yang engkau belum kenal dan engkau juga akan menemani seorang yang belum engkau kenal, ketahuilah wahai anakku, orang itu adalah suamimu. 

Jadilah engkau sebagai tanah dan dia sebagai langitmu.


Jangan engkau memberi beban kepadanya dengan berbagai kesusahan, sebab akan menjadikan dia meninggalkanmu.


Janganlah engkau terlalu menjauhinya, agar dia tidak melupakan dirimu.


Kalau dia mendekatimu, maka dekatilah dan sekiranya dia menjauhimu, maka jauhilah dia dengan baik...


Wahai putriku, peliharalah suamimu dengan baik... hidungnya, matanya dan yang lainnya. Jangan sampai suamimu mencium sesuatu darimu kecuali yang harum, jangan pula ia mendengar perkataanmu kecuali suara yang lembut dan jangan pula suamimu melihatmu kecuali yang indah dari dirimu...


Jadikan dirimu sebagai sendi utama di dalam rumahmu. Hendaklah kamu lebih banyak berada di rumah suamimu dan janganlah kamu menyelidiki kekurangannya.


Seorang isteri harus lebih sedikit berbicara (tidak ngerumpi) dengan tetangganya. Janganlah kamu memasuki rumah tetanggamu melainkan setelah mendapat izin dari yang punya rumah.


Seorang isteri hendaklah menjaga hak suami, baik pada waktu suami tiada atau ada di rumah. Usahakan agar suami selalu gembira ketika dia berada di sampingmu.


Janganlah sekali-kali seorang isteri mengkhianati harta suami dengan menghambur-hamburkan harta pada yang bukan semestinya. Apabila mendapat izin keluar rumah, hendaklah isteri menjaga kehormatan diri, berpakaian sederhana dan menutup auratnya...


Hindarilah bercakap-cakap di jalan yang tiada perlu dengan pria yang bukan mahramnya. Apabila ada pria yang bukan mahram ingin masuk rumah sedangkan suami tidak ada, berhati-hatilah, jangan sembarangan mengizinkannya masuk, berbicaralah seperlunya jangan bercakap-cakap yang tiada perlu karena bisa menimbulkan fitnah... hendaklah kamu menjaga dan memahami kecemburuan suamimu...


Hendaklah seorang isteri merasa puas dan bersyukur dengan apa yang ada pada suaminya termasuk rezeki yang diberikan oleh Allah kepadanya...


Seorang isteri berkewajiban senantiasa membersihkan diri dalam segala keadaan. Isteri juga hendaknya memiliki rasa belas kasih terhadap anak-anaknya, menjaga serta menutupi keburukan mereka dan tidak mudah mencaci maki anak-anak atau berbuat sesuatu yang kurang menyenangkan hati suaminya...

Friday, October 12, 2012

Bila Aku Jatuh Cinta

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatanku untuk mencintaimu

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak
melebihi cintaku pada-Mu,

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak
berpaling dari hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang
merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika kau halalkan aku merindui kekasih-mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehinggah melupakan aku
pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwa-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.
kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini
Dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.

Lapangkanlah dada-dada
kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan
bertawakal di jalan-Mu





Sunday, August 5, 2012

Cinta Perempuanmu?


Cinta itu butuh kesabaran. Sampai di manakah kita harus bersabar menanti cinta kita?



Hari itu, aku dengannya berkomitmen untuk menjaga cinta kita. Aku menjadi perempuan yang paling bahagia. Pernikahan kami sederhana namun meriah. Ia menjadi pria yang sangat romantis pada waktu itu. Aku bersyukur menikah dengan seorang pria yang shaleh, pintar, tampan, dan mapan pula. Ketika kami berpacaran dia sudah sukses dalam karirnya. Kami akan berbulan madu di tanah suci, itu janjinya ketika kami berpacaran dulu.



Dan setelah menikah, aku mengajaknya untuk umroh ke tanah suci. Aku sangat bahagia dengannya, dan dia juga sangat memanjakan aku. Terlihat dari rasa cinta dan rasa sayangnya padaku. Banyak orang yang bilang kami adalah pasangan yang serasi. Sangat terlihat sekali bagaimana suamiku memanjakanku. Dan aku bahagia menikah dengannya.




***




Lima tahun berlalu sudah kami menjadi suami istri. Tak terasa waktu begitu cepat berjalan. Walaupun kami hanya hidup berdua saja. Karena sampai saat ini aku belum bisa memberikannya seorang malaikat kecil di tengah keharmonisan rumah tangga kami.



Karena dia anak lelaki satu-satunya dalam keluarganya, jadi aku harus berusaha untuk mendapatkan penerus generasi baginya. Alhamdulillah saat itu suamiku mendukungku. Ia mengaggap Allah belum mempercayai kami untuk menjaga titipan-Nya.



Tapi keluarganya mulai resah. Dari awal kami menikah, ibu dan adiknya tidak menyukaiku. Aku sering mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan dari mereka, namun aku selalu berusaha menutupi hal itu dari suamiku. Di depan suamiku mereka berlaku sangat baik padaku, tapi di belakang suamiku, aku dihina-hina oleh mereka.



Pernah suatu ketika satu tahun usia pernikahan kami, suamiku mengalami kecelakaan, mobilnya hancur. Alhamdulillah suamiku selamat dari maut yang hampir membuatku menjadi seorang janda itu.



Ia dirawat di rumah sakit pada saat dia belum sadarkan diri setelah kecelakaan. Aku selalu menemaninya siang dan malam sambil kubacakan ayat-ayat suci Al–Qur’an. Aku sibuk bolak-balik dari rumah sakit dan tempat aku melakukan aktivitas sosia. Aku sibuk mengurus suamiku yang sakit karena kecelakaan.



Namun ketika aku kembali ke rumah sakit setelah dari rumah kami, aku melihat di dalam kamarnya ada ibu, adik-adiknya, dan teman-teman suamiku. Dan di saat itu juga aku melihat ada seorang wanita yang sangat akrab mengobrol dengan ibu mertuaku. Mereka tertawa menghibur suamiku.



Alhamdulillah suamiku ternyata sudah sadar, aku menangis ketika melihat suamiku sudah sadar, tapi aku tak boleh sedih di hadapannya.



Kubuka pintu yang tertutup rapat itu sambil mengatakan, "Assalammualaikum….”



Mereka menjawab salamku. Aku berdiam sejenak di depan pintu dan mereka semua melihatku. Suamiku menatapku penuh manja, mungkin ia kangen padaku karena sudah lima hari matanya selalu tertutup.



Tangannya melambai, mengisyaratkan aku untuk memegang tangannya erat. Setelah aku menghampirinya, kucium tangannya sambil berkata, "Assalammu'alaikum….”



Ia pun menjawab salamku dengan suaranya yang lirih namun penuh dengan cinta. Aku pun senyum melihat wajahnya.



Lalu, ibunya berbicara denganku. "Fis, kenalkan ini Desi, teman Fikri.”



Aku teringat cerita dari suamiku bahwa teman baiknya pernah mencintainya, perempuan itu bernama Desi dan dia sangat akrab dengan keluarga suamiku. Hingga akhirnya aku bertemu dengan orangnya juga. Aku pun langsung berjabat tangan dengannya, aku tak banyak bicara di ruangan tersebut, aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan.



Aku sibuk membersihkan dan mengobati luka-luka di kepala suamiku, baru sebentar aku membersihkan mukanya, tiba-tiba Dian---adik iparku---mengajakku keluar, ia minta ditemani ke kantin. Dan suamiku pun mengijinkannya.



Tapi, ketika di luar adik iparku berkata, "Lebih baik kau pulang saja, ada kami yang menjaga abang di sini. Kau istirahat saja."



Anehnya, aku tak diperbolehkan berpamitan dengan suamiku dengan alasan abang harus banyak beristirahat dan karena psikologisnya masih labil. Aku berdebat dengannya mempertanyakan mengapa aku tidak diizinkan berpamitan dengan suamiku. Tapi, tiba-tiba ibu mertuaku datang menghampiriku dan ia juga mengatakan hal yang sama. Nantinya, dia akan memberi alasan pada suamiku mengapa aku pulang tak berpamitan padanya, toh suamiku selalu menurut apa kata ibunya, baik ibunya salah ataupun tidak, suamiku tetap saja membenarkannya. Akhirnya aku pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dengan linangan air mata.



Sejak saat itu aku tidak pernah diijinkan menjenguk suamiku sampai ia kembali dari rumah sakit. Dan aku hanya bisa menangis dalam kesendirianku. Menangis mengapa mereka sangat membenciku.




***




Hari itu aku menangis tanpa sebab, yang ada di benakku aku takut kehilangannya. Aku takut cintanya dibagi dengan yang lain.



Pagi itu, pada saat aku membersihkan pekarangan rumah kami, suamiku memanggilku ke taman belakang. Ia baru aja selesai sarapan. Ia mengajakku duduk di ayunan favorit kami sambil melihat ikan-ikan yang bertaburan di kolam air mancur itu.



Aku bertanya, "Ada apa kamu memanggilku?"



"Besok aku akan menjenguk keluargaku di Sabang."



"Iya, Sayang…, aku tahu, aku sudah mengemasi barang-barang kamu di travel bag dan kamu sudah memegang tiket, bukan?"



"Ya, tapi aku akan lama di sana, sekitar tiga minggu. Aku juga sudah lama tidak bertemu dengan keluarga besarku sejak kita menikah. Aku akan pulang dengan Mama,”  jawabnya tegas.



"Mengapa baru sekarang bicara? Aku pikir hanya seminggu saja kamu di sana,” tanyaku balik kepadanya penuh dengan rasa penasaran dan sedikit rasa kecewa karena ia baru memberitahukan rencana kepulangannya itu. Padahal aku telah bersusah payah mencarikan tiket pesawat untuknya.



"Mama minta aku yang menemaninya saat pulang nanti,” jawabnya tegas.



"Sekarang aku ingin seharian dengan kamu karena nanti kita tiga minggu tidak bertemu. Ya, kan?" Ia melanjutkan lagi sambil memelukku dan mencium keningku. Hatiku sedih dengan keputusannya, tapi tak boleh aku tunjukkan padanya.



Bahagianya aku dimanja dengan suami yang penuh dengan rasa sayang dan cinta. Walau terkadang ia bersikap kurang adil terhadapku. Aku hanya bisa tersenyum saja, padahal aku ingin bersama suamiku. Tapi karena keluarganya tidak menyukaiku. Hanya karena mereka cemburu padaku karena suamiku sangat sayang padaku.



Kemudian aku memutuskan agar ia saja yang pergi dan kami juga harus berhemat dalam pengeluaran anggaran rumah tangga kami.



Karena ini acara sakral bagi keluarganya, jadi seluruh keluarganya harus komplit. Walaupun begitu, aku pun tetap tak akan dipedulikan oleh keluarganya---datang ataupun tidak. Tidak hadir justru membuat mereka sangat senang. Dan aku pun tak mau membuat riuh keluarga ini.



Malam sebelum kepergiannya, aku menangis sambil membereskan keperluan yang akan dibawanya ke Sabang. Ia menatapku dan menghapus air mata yang jatuh di pipiku. Lalu aku peluk erat dirinya. Hati ini bergumam tak merelakan dia pergi seakan terjadi sesuatu, tapi aku tidak tahu apa yang akan terjadi. Aku hanya bisa menangis karena akan ditinggal pergi olehnya.



Aku tidak pernah ditinggal pergi selama ini. Karena kami selalu bersama-sama kemana pun ia pergi. Apa mungkin aku sedih karena aku sendirian dan tidak memiliki teman.



Sampai keesokan harinya aku terus menangis. Menangisi kepergiannya. Aku tak tahu mengapa sesedih ini. Perasaanku tak enak, tapi aku tak boleh berburuk sangka. Aku harus percaya pada suamiku. Dia pasti akan selalu menelponku.




***




Berjauhan dengan suamiku, aku merasa sangat tidak nyaman. Aku merasa sendiri. Untunglah aku mempunyai kesibukan sebagai seorang aktivis, jadinya aku tak terlalu kesepian ditinggal pergi ke Sabang.



Saat kami berhubungan jarak jauh, komunikasi kami memburuk dan aku pun jatuh sakit. Rahimku terasa sakit sekali seperti dililit oleh tali. Tak tahan aku menahan rasa sakit di rahimku, sampai-sampai aku mengalami pendarahan. Aku dilarikan ke rumah sakit oleh adikku yang kebetulan menemanik. Dokter memvonis aku terkena kanker mulut rahim stadium tiga.



Aku menangis. Apa yang bisa aku banggakan lagi?



Mertuaku akan semakin menghinaku. Suamiku yang malang, yang selalu berharap akan punya keturunan dari rahimku, namun aku tak bisa memberikannya keturunan. Dan kemudian aku hanya bisa memeluk adikku.



Aku kangen suamiku. Aku selalu menunggunya pulang dan bertanya-tanya, "Kapankah ia segera pulang?"



Sementara suamiku di sana, aku tidak tahu mengapa ia selalu marah-marah jika menelponku. Bagaimana aku akan menceritakan kondisiku jika ia selalu marah-marah terhadapku. Lebih baik aku tutupi dulu tetang hal ini dan aku juga tak mau membuatnya khawatir selama ia berada di Sabang. Lebih baik nanti saja ketika ia sudah pulang dari Sabang, aku akan cerita padanya.



Setiap hari aku menanti suamiku pulang, hari demi hari aku hitung. Sudah tiga minggu suamiku di Sabang. Malam itu ketika aku sedang melihat foto-foto kami, ponselku berbunyi menandakan ada pesan masuk.



Kubuka ponselku, ternyata dari suamiku. Ia menulis, "Aku sudah beli tiket untuk pulang. Aku pulangnya satu hari lagi. Nanti kukabari lagi.”



Hanya itu saja yang diinfokannya. Aku ingin marah, tapi aku pendam saja ego yang tidak baik ini. Hari yang kutunggu pun tiba, aku menantinya di rumah.



Sebagai seorang istri, aku pun berdandan yang cantik dan memakai parfum kesukaannya untuk menyambut suamiku pulang. Nanti aku juga akan menyelesaikan masalah komunikasi kami yang buruk akhir-akhir ini.



Bel pun berbunyi, kubukakan pintu untuknya dan ia pun mengucap salam. Sebelum masuk, aku pegang tangannya ke depan teras namun ia tetap berdiri, aku membungkuk untuk melepaskan sepatu, kaos kaki dan kucuci kedua kakinya. Aku tak mau ada syaithan yang masuk ke dalam rumah kami. Setelah itu akupun berdiri, langsung mencium tangannya. Tapi apa reaksinya?



Masya-Allah, ia tidak mencium keningku. Ia hanya diam dan langsung naik keruangan atas, kemudian mandi dan tidur tanpa bertanya kabarku.



Aku hanya berpikir, mungkin dia capek. Aku pun segera merapikan bawaannya sampai aku pun tertidur. Malam menunjukkan sepertiga malam. Mengingatkan aku pada tempat mengadu yaitu Allah, Sang Maha Pencipta.



Biasanya kami selalu berjamaah. Tapi karena melihatnya tidur sangat pulas, aku tak tega membangunkannya. Aku hanya mengelus wajahnya dan mencium keningnya. Aku lalu sholat tahajud 8 rakaat dan witir 3 rakaat.




***




Aku mendengar suara mobilnya, aku terbangun lalu melihatnya dari balkon kamar kami. Ia bersiap-siap untuk pergi. Aku memanggilnya tapi ia tak mendengar. Kemudian aku ambil jilbabku dan berlari dari atas ke bawah tanpa memerdulikan darah yg bercecer dari rahimku untuk mengejarnya. Tapi ia begitu cepat pergi.



Aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Ada apa dengan suamiku? Mengapa ia bersikap tidak biasa terhadapku?



Aku tidak bisa diam begitu saja. Firasatku mengatakan ada sesuatu. Saat itu juga aku langsung menelpon ke rumah mertuaku dan kebetulan Dian yang mengangkat telponnya. Aku bercerita dan aku bertanya apa yang sedang terjadi dengan suamiku. Dengan enteng ia menjawab, "Loe pikir aja sendiri!!!.” Telpon pun langsung terputus.



Ada apa ini? Tanya hatiku penuh dalam kecemasan. Mengapa suamiku berubah setelah ia kembali dari kota kelahirannya. Mengapa ia tak mau berbicara padaku, apalagi memanjakan aku.



Semakin hari ia menjadi orang yang pendiam, seakan ia telah melepas tanggung jawabnya sebagai seorang suami. Kami hanya berbicara seperlunya saja, aku selalu diintrogasinya. Selalu bertanya aku dari mana dan mengapa pulang terlambat. Ia bertanya dengan nada keras.



Suamiku telah berubah. Bahkan yang membuatku kaget, aku pernah dituduhnya berzina dengan mantan pacarku. Ingin rasanya aku menampar suamiku yang telah menuduhku serendah itu. Tapi aku selalu ingat, sebagaimana pun salahnya seorang suami, status suami tetap di atas para istri, itu pedoman yang aku pegang. Aku hanya berdoa semoga suamiku sadar akan prilakunya.




***




Dua tahun berlalu, suamiku tak kunjung berubah juga. Aku menangis setiap malam, lelah menanti seperti ini. Kami seperti orang asing yang baru saja berkenalan.



Kemesraan yang kami ciptakan dulu telah sirna. Walaupun kondisinya tetap seperti itu, aku tetap merawatnya dan menyiapkan segala yang ia perlukan. Penyakitku pun masih aku simpan dengan baik dan sekalipun ia tak pernah bertanya perihal obat apa yang aku minum. Kebahagiaan ku telah sirna, harapan menjadi ibu pun telah aku pendam. Aku tak tahu kapan ini semua akan berakhir.



Bersyukurlah, aku punya penghasilan sendiri dari aktifitasku sebagai seorang guru ngaji. Jadi aku tak perlu meminta uang padanya hanya untuk pengobatan kankerku. Aku pun hanya berobat semampuku.



Sungguh, suami yang dulu aku puja dan aku banggakan, sekarang telah menjadi orang asing bagiku. Setiap aku bertanya, ia selalu menyuruhku untuk berpikir sendiri.



Tiba-tiba saja malam itu setelah makan malam usai, suamiku memanggilku.



"Ya, ada apa, Yah?" sahutku dengan memanggil nama kesayangannya, ‘Ayah’.



"Lusa kita siap-siap ke Sabang, ya." jawabnya tegas.



"Ada apa? Mengapa?"



Kau ikut saja, jangan banyak tanya!"



Astaghfirullah. Suamiku yang dulu lembut tiba-tiba menjadi kasar. Dia membentakku. Sehingga tak ada lagi kelanjutan diskusi antara kami.



Lalu aku pun bersegera mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke Sabang sambil menangis. Sedih karena suamiku kini tak aku kenal lagi.



Dua tahun pacaran, lima tahun kami menikah. Sudah dua tahun pula ia menjadi orang asing buatku. Kulihat kamar kami yang dulu hangat penuh cinta yang dihiasi foto pernikahan kami, sekarang menjadi dingin. Lebih dingin dari batu es. Aku menangis dengan kebingungan ini. Ingin rasanya aku berontak berteriak, tapi aku tak bisa.



Suamiku tak suka dengan wanita yang kasar, ngomong dengan nada tinggi, suka membanting barang-barang. Dia bilang perbuatan itu menunjukkan sikap ketidakhormatan kepadanya. Aku hanya bisa bersabar menantinya bicara dan sabar mengobati penyakitku ini, dalam kesendirianku..




***




Kami telah sampai di Sabang. Aku masih merasa lelah karena semalaman aku tidak tidur karena terus berpikir. Keluarga besarnya juga telah berkumpul di sana, termasuk ibu dan adik-adiknya. Aku tidak tahu ada acara apa ini.



Aku dan suamiku pun masuk ke kamar kami. Suamiku tak betah di dalam kamar tua itu, ia pun langsung keluar bergabung dengan keluarga besarnya.



Baru saja aku membongkar koper kami dan ingin memasukkannya ke dalam lemari tua, tiba-tiba Tante Lia---tante yang sangat baik padaku---memanggilku untuk bersegera berkumpul di ruang tengah. Aku pun menuju ke ruang keluarga yang berada di tengah rumah besar itu---yang tampak seperti rumah zaman peninggalan belanda.



Kemudian aku duduk di samping suamiku, dan suamiku menunduk penuh dengan kebisuan, aku tak berani bertanya padanya. Tiba-tiba saja neneknya, orang yang dianggap paling tua dan paling berhak atas semuanya, membuka pembicaraan.



"Baiklah, karena kalian telah berkumpul, Nenek ingin bicara dengan kau, Fisha". Neneknya berbicara sangat tegas, dengan sorot mata yang tajam.



"Ada apa ya Nek?" sahutku dengan penuh tanya.



"Kau telah bergabung dengan keluarga kami hampir 8 tahun, sampai saat ini kami tak melihat tanda-tanda kehamilan yang sempurna sebab selama ini kau selalu keguguran!"



Aku menangis. Untuk inikah aku diundang kemari? Untuk dihina ataukah dipisahkan dengan suamiku?



"Sebenarnya kami sudah punya calon untuk Fikri, dari dulu. Sebelum kau menikah dengannya. Tapi Fikri anak yang keras kepala, tak mau diatur. Dan akhirnya menikahlah ia dengan kau,” lanjut neneknya berbicara sangat lantang, mungkin logat orang Sabang seperti itu semua.



Aku hanya bisa tersenyum dan melihat wajah suamiku yang kosong matanya.



"Dan aku dengar dari ibu mertuamu kau pun sudah berkenalan dengannya.” Neneknya masih melanjutkan pembicaraan itu. Sedangkan suamiku hanya terdiam saja. Aku lihat air matanya. Ingin aku peluk suamiku agar ia kuat dengan semua ini, tapi aku tak punya keberanian untuk itu.



Neneknya masih saja berbicara panjang lebar dan yang terakhir dari ucapannya dengan mimik wajah yang sangat menantang kemudian berkata, "Kau maunya gimana? Kau dimadu atau diceraikan?"



MasyaAllah. Kuatkan hati ini. Aku ingin jatuh pingsan. Hati ini seakan remuk mendengarnya, hancur hatiku. Mengapa keluarganya bersikap seperti ini terhadapku. Aku selalu munutupi masalah ini dari kedua orang tuaku yang tinggal di pulau kayu. Mereka mengira aku sangat bahagia dua tahun belakangan ini.



"Fish, jawab!" Dengan tegas Ibunya langsung memintaku untuk menjawab.



Aku langsung memegang tangan suamiku. Dengan tangan yang dingin dan gemetar aku menjawab dengan tegas.



"Walaupun aku tidak bisa berdiskusi dulu dengan imamku, tapi aku dapat berdiskusi dengannya melalui bathiniah. Untuk kebaikan dan masa depan keluarga ini, aku akan menyambut baik seorang wanita baru di rumah kami."



Itu yang aku jawab, dengan kata lain aku rela cintaku dibagi. Dan pada saat itu juga suamiku memandangku dengan tetesan air mata, tapi air mataku tak sedikit pun menetes di hadapan mereka.



Aku lalu bertanya kepada suamiku, "Ayah, siapakah yang akan menjadi sahabatku di rumah kita nanti, Yah?"



Suamiku menjawab, "Desi."



Akupun langsung menarik napas dan berbicara, "Kapan pernikahannya berlangsung? Apa yang harus saya siapkan dalam pernikahan ini, Nek?"



Ayah mertuaku menjawab, "Pernikahannya dia minggu lagi."



"Baiklah kalau begitu saya akan menelpon pembantu di rumah, untuk menyuruhnya mengurus KK kami ke kelurahan besok.” Setelah berbicara seperti itu aku permisi untuk pamit ke kamar.



Tak tahan lagi. Air mata ini akan turun. Aku berjalan sangat cepat, membuka pintu kamar dan langsung duduk di tempat tidur. Ingin berteriak, tapi aku sendiri di sini. Tak kuat rasanya menerima hal ini, cintaku telah dibagi. Sakit. Diiringi akutnya penyakitku.



Apakah karena ini suamiku menjadi orang yang asing selama 2 tahun belakangan?



Aku berjalan menuju ke meja rias, kubuka jilbabku, aku bercermin sambil bertanya-tanya, "Sudah tidak cantikkah aku ini?"



Kuambil sisir. Kusisiri rambutku yang setiap hari rontok. Kulihat wajahku, ternyata aku memang sudah tidak cantik lagi. Rambutku sudah hampir habis. Kepalaku sudah botak di bagian tengahnya.



Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Ternyata suamiku yang dating. Ia berdiri di belakangku. Tak kuhapus air mata ini, aku bersegera memandangnya dari cermin meja rias itu. Kami diam sejenak, lalu aku mulai pembicaraan, "Terima kasih, Ayah, kamu memberi sahabat kepadaku. Jadi aku tak perlu sedih lagi saat ditinggal pergi kamu nanti. Iya, kan?"



Suamiku mengangguk sambil melihat kepalaku tapi tak sedikitpun ia tersenyum dan bertanya kenapa rambutku rontok. Dia hanya mengatakan jangan salah memakai shampo. Dalam hatiku bertanya mengapa ia sangat cuek dan sudah tak memanjakanku lagi. Lalu dia berkata, “Sudah malam, kita istirahat, yuk!"



"Aku sholat isya dulu, baru tidur.”



Dalam sholat dan dalam tidur aku menangis. Kuhitung mundur waktu, kapan aku akan berbagi suami dengannya. Aku pun ikut sibuk mengurusi pernikahan suamiku. Aku tak tahu kalau Desi orang Sabang juga. Sudahlah, ini mungkin takdirku. Aku ingin suamiku kembali seperti dulu, yang sangat memanjakanku atas rasa sayang dan cintanya itu.




***




Malam sebelum hari pernikahan suamiku, aku menulis curahan hatiku di laptopku.



Aku menulis saat-saat terakhirku melihat suamiku, aku marah pada suamiku yang telah menelantarkanku. Aku menangis melihat suamiku yang sedang tidur pulas. Apa salahku? Sampai ia berlaku sekejam itu kepadaku. Aku save di My Document yang bertitle "Aku Mencintaimu Suamiku”.



Hari pernikahan telah tiba. Aku telah siap, tapi aku tak sanggup untuk keluar. Aku berdiri di dekat jendela. Melihat matahari. Mungkin aku tak kan bisa melihat sinarnya lagi. Aku berdiri sangat lama. Suamiku yang telah siap dengan pakaian pengantinnya masuk dan berbicara padaku.



"Apakah kamu sudah siap?"



Kuhapus airmata yang menetes diwajahku sambil berkata, "Nanti jika ia telah sah jadi istrimu, ketika kamu membawa ia masuk ke dalam rumah ini, cucilah kakinya sebagaimana kamu mencuci kakiku dulu. Lalu ketika kalian masuk ke dalam kamar pengantin, bacakan doa di ubun-ubunnya sebagaimana yang kamu lakukan padaku dulu. Lalu setelah itu….” Ucapanku terhenti karena tak sanggup aku meneruskan pembicaraan itu, aku ingin menagis meledak.



Tiba-tiba suamiku menjawab, "Lalu apa, Bunda?"



Aku kaget mendengar kata itu. Yang tadinya aku menunduk seketika aku langsung menatapnya dengan mata yang berbinar-binar.



"Bisa kamu ulangi apa yang kamu ucapkan barusan?" pintaku untuk menyakini bahwa kuping ini tidak salah mendengar.



Dia mengangguk dan berkata, "Baik, Bunda. Akan Ayah ulangi. Lalu apa, Bunda?" Sambil ia mengelus wajah dan menghapus air mataku, dia agak sedikit membungkuk karena dia sangat tinggi, aku hanya sedadanya saja.



Dia tersenyum sambil berkata, "Kita lihat saja nanti, ya.” Dia memelukku dan berkata, "Bunda adalah wanita yang paling kuat yang Ayah temui selain Mama.”



Kemudian ia mencium keningku, aku langsung memeluknya erat dan berkata, "Ayah, apakah ini akan segera berakhir? Ayah kemana saja? Mengapa Ayah berubah? Aku kangen sama Ayah? Aku kangen belaian kasih sayang Ayah? Aku kangen dengan manjanya Ayah? Aku kesepian, Ayah? Dan satu hal lagi yang harus Ayah tahu, bahwa aku tidak pernah berzina. Dulu, waktu awal kita pacaran, aku memang belum bisa melupakannya, setelah 4 bulan bersama Ayah baru bisa aku terima, jika yang di hadapanku itu adalah lelaki yang aku cari. Bukan berarti aku pernah berzina Ayah."



Aku langsung bersujud di kakinya dan muncium kaki imamku sambil berkata, "Aku minta maaf Ayah, telah membuatmu susah".



Saat itu juga, diangkatnya badanku. Ia hanya menangis.



Ia memelukku sangat lama, dua tahun aku menanti dirinya kembali. Tiba-tiba perutku sakit, ia menyadari bahwa ada yang tidak beres denganku dan ia bertanya, "Bunda baik-baik saja, kan?"



Aku pun menjawab, "Bisa memeluk dan melihat Ayah kembali seperti dulu itu sudah membuatku baik. Aku hanya tak bisa bicara sekarang.”



Karena dia akan menikah. Aku tak mau membuat dia khawatir. Dia harus khusyuk menjalani acara prosesi akad nikah tersebut.




***




Setelah tiba di masjid, ijab-qabul pun dimulai. Aku duduk diseberang suamiku. Aku melihat suamiku duduk berdampingan dengan perempuan itu, membuat hati ini cemburu, ingin berteriak mengatakan, "Ayah jangan!"



Jantung ini berdebar kencang saat mendengar ijab-qabul tersebut. Begitu ijab-qabul selesai, aku menarik napas panjang. Tante Lia memelukku. Dalam hati aku berusaha untuk menguatkan hati ini. Ya, aku kuat.



Tak sanggup aku melihat mereka duduk bersanding di pelaminan. Orang-orang yang hadir di acara resepsi itu iba melihatku. Mereka melihatku dengan tatapan sangat aneh. Mungkin melihat wajahku yang selalu tersenyum.



Sampai di rumah, suamiku langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. Tak mencuci kakinya. Aku sangat heran dengan perilakunya. Apa iya, dia tidak suka dengan pernikahan ini? Sementara itu, Desi disambut hangat di dalam keluarga suamiku, tak seperti aku dahulu, yang dimusuhi.



Malam ini aku tak bisa tidur, bagaimana bisa? Suamiku akan tidur dengan perempuan yang sangat aku cemburui. Aku tak tahu apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana.



Sepertiga malam pada saat aku ingin sholat lail aku keluar untuk berwudhu. Aku melihat ada lelaki yang mirip suamiku tidur di sofa ruang tengah. Kudekati. MasyaAllah. Suamiku tak tidur dengan wanita itu, ia ternyata tidur di sofa. Aku duduk di sofa itu sambil mengelus wajahnya yang lelah. Tiba-tiba ia memegang tangan kiriku, tentu saja aku kaget.



"Kamu datang ke sini, aku pun tahu,” katanya. Aku tersenyum dan megajaknya sholat lail. Setelah sholat lail ia berkata, "Maafkan aku, aku tak boleh menyakitimu, kamu menderita karena egoku. Besok kita pulang ke Jakarta. Biar Desi pulang dengan mama, papa, dan juga adik-adikku."



Aku menatapnya dengan penuh keheranan. Tapi ia langsung mengajakku untuk istirahat. Saat tidur ia memelukku sangat erat. Aku tersenyum saja, sudah lama ini tidak terjadi.



Ya Allah, apakah Engkau akan menyuruh malaikat maut untuk mengambil nyawaku sekarang ini, karena aku telah merasakan kehadirannya saat ini. Tapi, masih bisakah engkau ijinkan aku untuk merasakan kehangatan dari suamiku yang telah hilang selama 2 tahun ini.



Suamiku berbisik, "Bunda kok kurus?"



Aku menangis dalam kebisuan. Pelukannya masih bisa kurasakan. Aku pun berkata, "Ayah kenapa tidak tidur dengan Desi?"



"Aku kangen sama Bunda, aku tak mau menyakitimu lagi. Kamu sudah sering terluka oleh sikapku yang egois." Dengan lembut suamiku menjawab seperti itu.



Lalu suamiku berkata, "Bun, Ayah minta maaf telah menelantarkan bunda. Selama ayah di Sabang, ayah dengar kalau bunda tidak tulus mencintai ayah. Bunda seperti mengejar sesuatu, seperti mengejar harta ayah. Dan satu lagi, Ayah pernah melihat SMS bunda dengan mantan pacar Bunda di mana isinya kalau bunda gak mau berbuat ‘seperti itu’ dan tulisan seperti itu diberi tanda kutip. Ayah ingin ngomong tapi takut Bunda tersinggung dan berpikir kalau Bunda pernah tidur dengannya sebelum bertemu Ayah. Terus Ayah dimarahi oleh keluarga karena terlalu memanjakan Bunda"



Hati ini sakit ketika difitnah oleh suamiku, ketika tidak ada kepercayaan di dirinya, hanya karena omongan keluarganya yang tidak pernah melihat betapa tulusnya aku mencintai pasangan seumur hidupku ini.



Aku hanya menjawab, "Aku sudah ceritakan itu, kan, Yah. Aku tidak pernah berzina dan aku mencintaimu setulus hatiku. Jika aku hanya mengejar hartamu, mengapa aku memilih kamu? Padahal banyak lelaki yang lebih mapan darimu waktu it. Jika aku hanya mengejar hartamu, aku tak mungkin setiap hari menangis karena menderita mencintaimu."



Entah aku harus bahagia atau aku harus sedih karena ‘sahabatku’ sendirian di kamar pengantin itu. Malam itu, aku menyelesaikan masalahku dengan suamiku dan berusaha memaafkannya beserta sikap keluarganya juga. Karena aku tak mau mati dalam hati yang penuh dengan rasa benci.




***




Keesokan harinya...



Ketika aku ingin terbangun untuk mengambil wudhu, kepalaku pusing, rahimku sakit sekali. Aku mengalami pendarahan dan suamiku kaget bukan main, ia langsung menggendongku. Aku pun dilarikan ke rumah sakit.



Dari kejauhan aku mendengar suara zikir suamiku. Aku merasakan tanganku basah. Ketika kubuka mata ini, kulihat wajah suamiku penuh dengan rasa kekhawatiran. Ia menggenggam tanganku dengan erat. Dan mengatakan, "Bunda, Ayah minta maaf...."



Berkali-kali ia mengucapkan hal itu. Dalam hatiku, apa ia tahu apa yang terjadi padaku? Aku berkata dengan suara yang lirih, "Yah, Bunda ingin pulang. Bunda ingin bertemu kedua orang tua bunda, anterin bunda kesana, ya, Yah...."



"Ayah jangan berubah lagi, ya. Janji, ya, Yah.... Bunda sayang banget sama Ayah,” lanjutku.



Tiba-tiba saja kakiku sakit sangat sakit, sakitnya semakin ke atas. Kakiku sudah tak bisa bergerak lagi. Aku tak kuat lagi memegang tangan suamiku. Kulihat wajahnya yang tampan, berlinang air mata. Sebelum mata ini tertutup, kulafazkan kalimat syahadat dan ditutup dengan kalimat tahlil.



Aku bahagia melihat suamiku punya pengganti diriku. Aku bahagia selalu melayaninya dalam suka dan duka. Menemaninya dalam ketika ia mengalami kesulitan dari kami pacaran sampai kami menikah. Aku bahagia bersuamikan dia. Dia adalah napasku.



Untuk Ibu mertuaku, "Maafkan aku telah hadir di dalam kehidupan anakmu sampai aku hidup di dalam hatinya. Ketahuila, Ma, dari dulu aku selalu berdoa agar Mama merestui hubungan kami. Mengapa engkau fitnah diriku di depan suamiku, apa engkau punya buktinya, Ma? Mengapa engkau sangat cemburu padaku, Ma? Fikri tetap milikmu, Ma. Aku tak pernah menyuruhnya untuk durhaka kepadamu. Dari dulu aku selalu mengerti apa yang kamu inginkan dari anakmu, tapi mengapa kau benci diriku. Dengan Desi kau sangat baik tetapi denganku, menantumu, kau bersikap sebaliknya."







---selesai---