Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Sunday, April 19, 2015

Memangku Rembulanmu



Karya: Endar Wahyuni

apatah mimpi ini terlalu tinggi?
aku hanya ingin menjadi gadis bergaun biru itu
tidak lebih

sayang, jikalau hati berkenan, tuntunlah aku
ke sana, negeri di atas awan
pastikan semua pintu-pintunya terbuka
pastikan aku leluasa memasuki sudut-sudut ruangannya

lalu, ajaklah aku di pekarangan awan, aku ingin duduk
santai di gumpalannya meski takut ketinggian
tapi aku tahu, sudah kausiapkan selembar kain penutup mata
memenjarakan ketakutanku yang sebenarnya tak perlu ada

di sampingku, kau bercerita tentang indahnya
bulan sabit di seberang sana
dengan selengkung senyum yang kaubilang teramat manis
tolong, ambilkanlah! karena mataku masih tertutup
aku tak bisa melihat kecantikannya
maka, bawalah padaku biar kupangku
biar kurasa pendar sinarnya ‘kan menerangi gulita hatiku


JOG, En-221214



Lihat juga puisi lainnya di sini

Wednesday, February 18, 2015

SUNGGUH


Karya: Endar Wahyuni

Sungguh, aku telah banyak melihat wajah penuh kepura-puraan
Menyimak binar mata yang seolah mencintai fajar
Menemukan mulut ternganga pada kesengajaan
; Sempurna

Sungguh, aku telah banyak mendengar dengusan-dengusan
Berpura kesal pada hujan yang turun di kuncupnya pagi
Mengutuk langit-langit kota
; Meyakinkan

Sungguh, aku telah banyak merasa datangnya simpati dan empati
Bagi embun yang lebih dulu diterpa hujan
Seakan begitu menenangkan di tengah ingar-bingar air yang jatuh dari talang-talang
; Melenakan

Dan sungguh, aku tak ingin mengacuhkannya
Hujan sudah telanjur menguyupkan tubuhku lebih dulu
Sebelum akhirnya mata itu tajam menusuk pagi
Sumpah serapah bernyanyi di balik daun telinga
Pujian sesungguhnya hujatan yang dialirkan sedemikian tenangnya

Lalu sungguh…
Biarkan aku bergeming
Diam di antara gemuruh basa-basi
Membutakan diri, menulikan jiwa, dan membisukan hati


JOG, En-180215



Lihat juga puisi lainnya di sini
 

Wednesday, February 4, 2015

Kubangan Kita

Karya: Endar Wahyuni

riuh gelak tawa
memecah kamar kecil milik kita
canda bertebar di mana saja
seolah kita sedang bahagia


padahal,
aku dan tuan sama-sama melihat
ada dusta menyusup di antara gelak
bisik menyelip mengumpat
makar seolah menjadi makanan ringan
dicecap nikmat setiap saat


sampai kapan, tuan?
kita berada dalam kubangan hina
menjumput sekecil apa pun celah
untuk membangun besarnya cela


cukup, tuan!
lama usiamu hanya untuk mencerca
mendamba karamnya mimpiku semata
yang sesungguhnya tak sesempurna yang tuan kira



JOG, En-011214



Lihat juga puisi lainnya di sini
 

Dalam Geming Jemari

Karya: Endar Wahyuni

dalam geming jemari
diam-diam kuintip padu padan diksi
menggelitik hati membuai sanubari


melayang angan mengembara ke langit tinggi
mereka-reka guratan hitam bubuhi kertas putih
lari-lari otakku mencari
ramuan mustajab pemanis puisi


sekali lagi kutilik dinding penulis
kekata bertebaran bertabur kisah paling kasih
menyembul resah atas larikku yang cerai berai


masih dalam geming jemari
miris aku menilik
kertas kosong tiada penghuni
pena tak jua menari
gambaran hati urung terlukis


arghhh… rupanya jemariku enggan berkutik
: mematung diri



JOG, En-241114



Lihat juga puisi lainnya di sini

Seseorang di Telaga Seberang

Karya: Endar Wahyuni

ini tentang dia
yang selalu menceritakan bermacam warna
mengemasnya dalam sajian cinta
hingga aromanya begitu menggoda


adalah hijau yang begitu meneduhkan
menenangkan setiap percik-percik kecemburuan
mendamaikan daun-daun amarah yang sering bergesekan


adalah biru yang mengharmoniskan warna
menyelaraskan rasa yang sejatinya ingin terus sejalan
melembutkan dua hati anak manusia


adalah bening yang menarik pandang
seakan memperlihatkan putihnya relung dua insan
ingin memadu kasih dalam kisahnya


hingga gemericiknya air bak alunan lagu kenangan
tentang telaga cinta yang membuai rasa
tentang derasnya doa dalam harapan


ini tentang dia
seseorang di telaga seberang



JOG, En-101114



Lihat juga puisi lainnya di sini
 

Senja Milik Kita

Karya: Endar Wahyuni

Jangan lelap, Sayang!
Lihatlah langit di atas sana,
semburat jingganya menggoda,
mengusik hati dua anak manusia,
‘tuk bertukar kata menutur rasa.


Ah…, bangunlah, Sayang!
Tak inginkah kaunikmati cakrawala senja?
Mahkota bumi, tempat kita berpijak,
kini kuningnya perlahan menua.
Mengantarkan sang surya ke peraduannya.


Sayang, rupanya kau tetap membisu,
enggan bermain kekata lagi denganku.
Tapi, maukah kaudengar bisikku?
“Aku masih mencintaimu,
bersama selarik rindu dalam sendu.”


Kudekap erat pusaramu,
Senja ini tetap milik kita, Sayangku.



JOG, En-031114



Lihat juga puisi lainnya di sini
 

DIA

Karya: Endar Wahyuni

temaram rembulan malam ini
menggelitik bersanding dingin
di bawahnya, aku bermandikan kilau mengusir gigil


kuterawang cakrawala malam
memungut kisah lampau yang berceceran
kulihat tawa renyah pun senyum senjanya
lalu tiba-tiba kutemui sumpah serapahnya


tidak! aku tak boleh mengutuknya
membubuhkan embun bening di sudut kerut matanya
ah... tapi dia bukan lagi bintang yang selalu kutunggu selepas senja
dia terlalu angkuh menyaksikan si kunang menari-nari dalam pekat


“tapi kamu bintang kecilnya,” logikaku meronta
kutatap mimiknya yang menua termakan usia
meratapi masa yang merenggutku darinya, selalu begitu katanya


aku mencari-cari relung hatiku
mencoba mengintip sudut paling dalam
kusisipkan surat tentang dia yang selalu menabur dilema
“adakah bilik miliknya dulu masih utuh?” tanyaku meragu



JOG, En-271014



Lihat juga puisi lainnya di sini 
 

Tuesday, January 27, 2015

Lapar yang Menggigil

Karya: Endar Wahyuni

tiba-tiba aku ragu
pada semangkuk mi kuah yang kauhidangkan
tertata rapi di meja makan bersama kepulannya

cukup sedapkah ia?
sedang di warung depan
ayam panggang lebih menggiurkan cacing-cacing perut
yang sedari tadi belingsatan
mengisyaratkan si empunya tengah kelaparan

aku takut...
sangat takut...
takut kita hanyalah sepasang gigil
yang berteduh dari guyuran hujan
lalu saling mencoba menghangatkan tubuh
lewat kuah panas yang terhidang menggoda

dan ketika di luar sudah reda
ketika kuah telah habis tak bersisa
ketika mi tak mampu mengganjal
ketika perut masih terus meronta
diam-diam kita saling menyelinap lewat pintu belakang
mengendap-endap di bawah jendela samping rumah
lalu melahap nikmat ayam panggang warung depan


JOG, En-270115



Lihat juga puisi lainnya di sini

KIRANYA SUDI

Penulis: Endar Wahyuni

sekiranya rindu ini tak akan genap
mewakilkan debar yang tak pernah terungkap
sudilah kiranya tetap tinggal walau senyap
mencumbui candu yang diam-diam menyelinap
bersembunyi di antara kawanan rasa yang tercecap

sekiranya rasa ini tak terlihat cukup
tertuang pada semangkuk pagi yang masih kuncup
apalagi siang pasti jadi lebih redup
sudilah kiranya tetap menunggu degup
yang sesungguhnya tengah meletup-letup
namun gagal menampakkan diri karena gugup
hingga memilih mengindik di balik senja yang kian kuyup

sekiranya memang sudi
sudilah kiranya mengemudi
membawa kapal ini berlayar di luas laut yang tak terkira
seraya menikmati guratan wajah cakrawala di atas samudra
yang sudi menjingga dimakan senja


JOG, En-270115



Lihat juga puisi lainnya di sini

Sunday, December 7, 2014

TARIAN MANTRA


Karya: Endar Wahyuni


Malam ini, sekali lagi aku harus mencintaimu.
Sebab mantra yang entah punya siapa,
dirapal dalam komat-kamitnya.
Berpadu apik dengan asap kemenyan.
Membumbung membawa seikat wewangian.
Ialah dupa pengikat aroma cinta.

Benar. Setengah hati kusentuh pesonamu.
Kuraba di antara pejam pelupuk.
Perlahan, aku meliuk,
mainkan tarian paling rayu.
Dan kau terus merajuk.
Memintaku betah berlama-lama di atas tubuhmu.

Aku menari,
terus menari.
Aku sama sekali tak bisa berhenti.
Berada di hamparan pori tubuhmu ini,
seakan berada di surga penuh bebunga, wangi
memikat sungguh bak kutub hati.

Padahal, sayup kudengar
hati menjerit meronta.
Mengusir kisah lama di ambang gerbang.
“Aku tak ingin kau pulang,” hardiknya.

“Puing-puing kenangan sudah tak bersisa.
Apalagi yang harus dibenah?” tegasnya.

Tapi, rupanya tubuhmu masih utuh.
Aku belingsatan tak tentu.
Sedang tarianku terus mengiringi jerit lubuk.
Semakin cepat ikuti irama lagu.
Musik semakin mengeras samarkan rengekanku.
Rengekan hati yang tak lagi mencintaimu.

Mungkin memang benar mantramu
mandi mengelabuiku
‘tuk terus mencumbumu.


'Warning-Outdated' @JOG, En-071214




Lihat juga puisi lainnya di Kumpulan Puisiku