Showing posts with label My Legend is My Inspiration. Show all posts
Showing posts with label My Legend is My Inspiration. Show all posts

Sunday, June 29, 2014

"Motivator Terbaik Dalam Hidup Adalah Diri Sendiri"

Penulis: bepe, 07 September 2013
 
Pada suatu pagi di Gelora Bung Karno.
 Saya tengah jogging ketika tiba-tiba seorang anak SMP mengejar, dan kemudian berlari sejajar dengan saya. Sejurus kemudian anak tersebut berkata "Om boleh ikut lari ngga?", "Oh ayo saja" jawab saya singkat sambil terus berlari.

"Jadi beneran sudah pensiun nih Om?", tanya anak tersebut. "Pensiun total sih belom, tapi untuk tim nasional iya", jawab saya. "Ngga sayang Om?" tanya dia lagi. "Maksudnya sayang?" ucap saya balik bertanya.

"Ya semua orang pada pengen banget masuk tim nasional, eh Om yang jadi kapten malah mengundurkan diri", ujar dia lagi. Mendengar kalimat tersebut, sejenak saya pun menghela nafas. Beberapa saat kemudian saya menjawab, "Manusia itu harus tahu kapan saatnya berjalan, dan kapan saatnya untuk berhenti".
 Anak tersebut hanya terdiam sambil terus berlari di samping saya. Nampak jika dia tengah coba mengartikan kalimat yang baru saja keluar dari mulut saya. Tak lama kemudian, anak tersebut kembali bertanya "Trus kenapa ngga main lagi di Persija Om?. "Iya lagi pengen istirahat dulu hehehe", jawab saya singkat..

"Karena masalah gaji ya om?" ujar dia lagi. Saya tidak menjawab pertanyaan tersebut. "Dimana loyalitas dan kecintaanmu kepada klub yang telah membesarkanmu Om?", cerocos anak tersebut. Seketika sambil tersenyum sayapun bergumam dalam hati, "Mimpi apa gue semalem, pagi-pagi udah ketemu yang beginian".
 Sambil terus berlari sayapun kemudian berkata, "Rasa cinta dan fanatisme kita terhadap sesuatu, jangan pernah membutakan mata dan hati kita dalam membuat sebuah penilaian. Jika sesuatu yang kita cintai telah melenceng dan melakuan kesalahan, maka sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab kita untuk mengingatkan".

"Begitu juga dengan Persija Jakarta, ketika mereka melakukan kesalahan dengan menelantarkan para pemain yang telah berjuang atas nama Persija Jakarta, maka mereka harus diperingatkan. Jadi ini lebih kepada rasa cinta dan tanggung jawab, bukan kebencian. Mereka yang berpikiran terbuka, tidak akan pernah menganalogikan kritik dengan sebuah kebencian".
Anak tersebut mendengarkan dengan seksama sambil terus berusaha mengimbangi langkah kaki saya. "Emang parah tuh Ferri Paulus", ujar dia perlahan. Sejurus kemudian dengan nafas yang terengah-engah ia kembali bertanya, "Om kasih motivasi buat saya dong, biar saya bisa jadi pemain yang sukses seperti Om".
 Pertanyaan tersebut membuat saya terdiam sesaat. Dan ketika saya ingin menjawab pertanyaan tersebut, ternyata si anak tadi sudah tidak berada disamping saya lagi.
Seketika sayapun memperlambat langkah dan melihat ke belakang. Ternyata dia tengah menunduk sambil memegangi kedua lututnya. Nafasnya nampak tersengal-sengal tak beraturan. Sayapun berjalan berbalik arah dan mendekati anak tersebut.

"Siapa namamu?" tanya saya kepada anak tersebut. "Reza om", jawab anak itu. "Dengar lagi baik-baik. Motivator terbaik dalam hidup ini adalah diri sendiri, bukan orang lain. Bukan orang tua, pacar, idola, guru, atau Mario Teguh sekalipun. Karena yang paling tahu dan mengenal diri kita adalah diri kita sendiri". 
 Si anak yang mengaku bernama Reza tersebut hanya memandangi saya sambil tetap mencoba mengatur nafasnya. Beberapa saat berselang sayapun kembali berkata, "Siapapun bisa saja memberikan motivasi yang luar biasa, namun hal tersebut bisa jadi hanya singgah sebentar di otak kita, dan tak lama kemudian akan menghilang. Berbeda jika kita dapat mencari cara untuk memotivasi diri sendiri, maka sugesti atau pesan itu akan tertanam kuat di dalam otak kita, dan tinggal disana selamanya".

"Oh begitu ya om", kata si Reza perlahan. "Semoga kamu mengerti", ujar saya singkat sambil menepuk pundak anak SMP tersebut. Sayapun lanjut berlari mengelilingi lintasan luar Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Sekelumit cerita di atas hanyalah sebuah contoh soal, yang dalam kesempatan itu mungkin dapat mewakili banyak hal. Mewakili banyak hal, mengingat sejujurnya banyak sekali pertanyaan-pertanyaan serupa yang ditujukan kepada diri saya. Baik secara langsung, maupun melalui media sosial.

Dan bukan bermaksud untuk tidak ingin berbagi, atau menyemangati, namun saya memiliki pandangan yang mungkin sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Utamanya mengenai apa itu motivasi, dan bagaimana cara memotivasi. Di bawah ini saya akan coba untuk menjabarkannya bagi rekan-rekan sekalian.
 Awal sekali saya adalah sebuah pribadi yang sangat yakin dan percaya, jika sesuatu yang terjadi karena getaran dari dalam diri, akan selalu lebih efektif daripada pengaruh dari luar. Yang dalam hal ini berarti, reaksi setiap individu terhadap segala sesuatu yang ia rasakan dan hadapi, selalu menjadi hal yang paling penting.

"Life is 10% of what happens to you, and 90% how you respond to it". Entah siapa yang menulis atau berkata demikian, karena sejujurnya saya sudah lupa. Namun terlepas dari siapapun orangnya, saya sangat setuju dengan ungkapan tersebut.


Pada dasarnya setiap manusia itu sama, yang membedakan adalah reaksi mereka terhadap segala permasalahan yang ia hadapi. Artinya, sebesar dan seberat apapun permasalahan yang menghampiri kita, selama kita mampu bereaksi positif terhadap permasalahan tersebut, maka kita akan mampu melewatinya dengan baik.

Permasalahan itu hanya 10 persen dari keseluruhan hidup kita, sedang 90 persen sisanya adalah bagaimana reaksi kita terhadap permasalahan tersebut. Semakin positif reaksi kita dalam menghadapi masalah tersebut, maka semakin besar juga presentasi kita untuk dapat melewatinya. Begitu juga sebaliknya.


Teori kesuksesan itu sederhana. Kemampuan ditambah kemauan serta keyakinan, maka sama dengan kesuksesan. Jika anda merasa lemah pada salah satu sisinya, maka anda harus memberi perhatian lebih, atau bekerja lebih keras pada sisi yang lain. Kesuksesan akan datang kepada orang-orang yang mampu memaksimalkan kemampuan yang ada pada diri mereka. 
 Idealnya memang kemampuan, kemauan, dan keyakinan dalam posisi yang sama-sama kuat. Namun hal tersebut jarang sekali ditemui, akan selalu ada sisi yang sedikit lemah dari ketiga hal tersebut.
Satu hal yang perlu digaris bawahi, bahwa definisi sebuah kesuksesan sebenarnya bukan berada pada penilaian dari orang-orang di luar sana. Melainkan berada pada sejauh mana kita mampu memaksimalkan potensi yang ada pada diri kita, untuk mampu mencapai sesuatu. Dan hal tersebut hanya dapat dinilai oleh diri kita sendiri, bukan orang lain.

Karena kembali lagi, pada akhirnya yang paling mengerti diri kita adalah diri kita sendiri. Demikian halnya yang paling mengerti sajauh mana potensi yang ada pada diri kita, jugalah diri kita masing-masing..

Maka mari bekerja keras untuk mencapai sesuatu, bukan untuk mengalahkan orang lain. Jangan pernah terbelenggu dengan sifat iri, dengki, benci serta dendam terhadap orang lain. Karena sejatinya, hal tersebut hanya akan membatasi potensi serta ruang gerak kita, untuk berkembang dan menjadi jauh lebih baik dari siapa diri kita saat ini.

Mungkin saja pada sebuah tahap, kita sudah mampu mengalahkan orang lain. Dan ketika kita sudah merasa puas dengan hal tersebut, maka kita hanya akan berhenti sampai disana saja. Padahal mungkin dengan potensi yang kita miliki, kita mampu melangkah lebih jauh lagi, bukan hanya sekedar mengalahkan orang tersebut.


Akhir sekali kepada seluruh pesepakbola muda di luar sana, jangan pernah ingin menjadi seperti diri saya. Mengapa? karena dengan kemampuan yang kalian miliki, dengan kerja keras dan keyakinan, maka bisa jadi kalian dapat menjadi jauh lebih baik dari diri saya.

Siapa tahu? Bukankah kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. 
 Maka tulislah masa depanmu dengan penamu sendiri, dan warnailah dengan warna yang kalian sukai. Karena hidup ini terlalu singkat untuk menjadi orang lain.

Selamat berjuang dan semoga sukses, untuk karir dan masa depan kalian.

Selesai....




Sumber: http://bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/umum/2013/09/07/161/motivator-terbaik-dalam-hidup-adalah-diri-sendiri#.U6-SWrG1qDF
     

Sunday, April 14, 2013

"I Live For This SH*T"

Penulis: bepe, 25 December 2011
 


Indonesia Vs Uruguay: Jum'at 8 Oktober 2010, Stadion Utama Gelora Bung Karno..

Salah satu hari yang cukup spesial dalam karir sepakbola saya. Saya katakan spesial karena pada hari itu saya mendapat kesempatan untuk bermain dengan tim sekelas Uruguay, yang 3 bulan yang lalu baru saja berhasil menjadi peringkat ke 3 Piala Dunia 2010. Lebih spesial lagi karena mereka datang dengan kekuatan penuh sama seperti ketika bermain di piala dunia 2010, hanya seorang Diego Forlan yang menghilang dari squad ketika itu..

Akan selalu menjadi hal yang sangat menyenangkan serta membanggakan ketika kita dapat bermain dengan pemain-pemain level wahid di dunia. Karena dalam pertandingan-pertandingan seperti itu, kita dapat banyak belajar mengenai cara bermain, tak-tik serta strategi yang baik dan benar dalam sepakbola modern. Mengingat permainan sepakbola modern sendiri sudah berkembang dengan sedemikian pesatnya..

Seperti yang kita semua tahu, pertandingan itu sendiri berakhir dengan skor 1:7 untuk kemenangan Uruguay. Ketika itu publik mencaci maki permainan tim nasional yang mereka anggap sangat memalukan, masyarakat lupa jika tim yang kita hadapi saat itu adalah peringkat 3 Piala Dunia, tim yang kekuatannya tentu tidak sembarangan. Hal Itu terbukti  setelah 7 bulan kemudian, Uruguay mampu menjadi  yang terbaik di gelaran Copa America, menyisihkan Chile, Paraguay bahkan Argentina juga Brazil..

Selama bertahun-tahun bermain untuk tim nasional, saya sangat bersyukur karena banyak mendapat kesempatan untuk bermain dengan tim-tim hebat dari mancanegara, begitu juga dengan pemain-pemain kelas dunia. Akan tetapi sejujurnya pertandingan melawan Uruguay tersebut adalah salah satu yang paling berkesan bagi saya. Mengapa..?? karena terselip sebuah cerita bermakna di sebaliknya. Sebuah cerita yang mungkin sangat sederhana akan tetapi sarat akan makna. Sebuah cerita yang tidak dapat saya pungkiri mampu menyentuh sisi emosional saya sebagai pemain sepakbola, terlebih lagi sebagai pemain tim nasional Indonesia..

Dalam pertandingan itu satu-satunya gol Indonesia di cetak oleh Boaz T. E Salossa, memanfaatkan sebuah umpan terukur Bambang Pamungkas yang jatuh tepat di belakang Diego Lugano. Sebuah umpan yang membuat Boaz langsung berhadapan satu lawan satu dengan penjaga gawang Uruguay, yang malam itu di tempati oleh Juan Guillermo Castillo. Dengan satu gerakan saja, Boaz sudah mampu mengecoh Castillo dan menceploskan bola ke gawang yang sudah kosong..

Menurut saya malam itu saya sendiri tampil biasa-biasa saja, jauh untuk dapat dikatakan baik, akan tetapi tidak juga dapat dikategorikan sebagai buruk. Malam itu adalah untuk pertama kalinya saya bermain sebagai gelandang serang di tim nasional Indonesia, dan sialnya lagi lawan yang kami hadapi adalah tim sekelas Uruguay. Maka hasilnyapun sudah dapat ditebak, saya sering kehilangan bola dan salah mengantisipasi pergerakan lawan..
Satu hal yang paling mengejutkan adalah, 40 ribuan penonton yang hadir di stadion malam itu, menyoraki saya setiap kali saya menyentuh bola. Bahkan puncaknya terjadi di sekitar menit ke 60, ketika saya ditarik keluar dan digantikan oleh Yongki Aribowo, maka suara Booooo dari penonton menjadi background soundtrack yang mengiringi keluarnya saya dari lapangan malam itu..

Walaupun dalam konferensi pers setelah pertandingan kapten Uruguay Diego Lugano sempat mengatakan, jika menurut dia pemain Indonesia paling berbahaya adalah nomer 20. Akan tetapi itu sama sekali tidak merubah pendapat publik terhadap si nomer 20 itu sendiri, yaitu si tua pembawa sial untuk tim nasional Indonesia dan tidak pantas untuk tampil di Piala AFF 2010, yang akan di gelar 2 bulan kemudian..

Selama 11 tahun (Saat itu) saya membela tim nasional, ini adalah pertama kalinya saya mengalami peristiwa seperti ini. Jika hal tersebut terjadi di Kota Bandung misalnya, mungkin saya akan sangat memahaminya. Mengingat publik Bandung memang cukup membenci saya. Hal tersebut terjadi karena sebagai salah satu punggawa dari tim musuh bebuyutan Persib Bandung (Persija Jakarta), saya adalah pemain yang paling rajin mengoyak jala tim kesayangan mereka. Akan tetapi sangat disayangkan hal tersebut terjadi di Stadion Utama Gelora Bung Karno Jakarta, tempat yang notabene menjadi homebase tim nasional dan juga homebase tim yang saya bela yaitu Persija Jakarta, tentu hal tersebut sangat mengecewakan..

Sejujurnya saya sangat tepukul malam itu, tidak pernah terbayangkan hal tersebut akan terjadi menimpa diri saya. Maka senyum kecutpun mengiringi keluarnya saya dari lapangan hijau menuju bangku cadangan, malam itu. Selama sisa pertandingan di bangku cadangan, beberapa kali tanpa sadar saya sempat termenung. Saya masih cukup syok dengan apa yang baru saja terjadi..

Setelah pertandingan Ayah saya beberapa kali menghubungi saya melalui telephon, akan tetapi tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada ayah saya, saya memutuskan untuk tidak berbicara dulu dengan ayah saya malam itu. Dalam artikel (Late Show With Bambang Pamungkas - Agustus 2011) saya sempat menyebutkan, jika kritikus terpedas dalam karir saya adalah istri dan ayah saya sendiri. Maka dalam benak saya malam itu, saya merasa sangat tidak siap untuk berdiskusi mengenai permainan saya dengan Ayah saya. Ayah saya pasti akan banyak mengkritik saya, dan saya merasa tidak siap untuk beradu argumentasi mengenai  hal tersebut. Hal itulah yang mendasari keputusan saya untuk memilih tidak berbicara dahulu dengan ayah saya..

Karena keesokan harinya saya bersama tim nasional harus bergerak ke Bandung, untuk menjalani satu lagi pertandingan persahabatan, yaitu melawan Maladewa di Stadion Siliwangi. Maka malam itu pun saya habiskan untuk berdiskusi dengan Dewi istri saya, hingga larut malam. Mendengar saya di hujat penonton satu stadion, Dewi yang ketika itu juga berada di stadion sempat menangis. Dan untuk kesekian kalinya, malam itu Dewi meminta kepada saya untuk mundur dari tim nasional. Ketika itu saya sempat menyampaikan kepada Dewi bahwa ayah saya sempat menghubungi, akan tetapi saya tidak menjawabnya, karena merasa belum siap. Ketika itu Dewi berkata "Kenapa ngga diangkat, siapa tahu bapak ngga mengkritik tapi malah menyemangati", "Besok saja aku akan menghubungi bapak" jawab saya singkat..

Singkat cerita, keesokan harinya tim nasional pun bergerak dari Jakarta menuju Bandung. Dalam perjalanan menuju Bandung tersebutlah, saya merasa secara mental sudah cukup siap untuk berbicara dengan ayah saya. Setelah menarik nafas panjang beberapa kali, sayapun menekan nomer ponsel ayah saya, beberapa saat kemudian terdengar suara ayah saya dari seberang sana..

Dibawah ini adalah kurang lebih percakapan kami ketika itu:
Ayah: Hallo,, Assalamu alaikum.. 

Saya: Wa alaikum salam, semalam bapak telephon saya..?? Maaf pak lagi lumayan sibuk jadi tidak sempat angkat telephon bapak..

Ayah: Oh iya ngga apa-apa, semalam bapak hanya ingin bertanya kenapa bisa jadi begitu..?? Bambang Pamungkas yang semalam bapak lihat bukanlah Bambang Pamungkas yang ayah kenal selama ini..
Sayapun berkata dalam hati, "Nah mulai deh bla,, bla,, bla.. Sabar Bambang,, Sabaaarr"..

Saya: Iya pak lawannya juga Uruguay, susah sekali pak lawan mereka, ya harap dimaklumi lah kalo saya banyak bikin salah, apalagi saya main di posisi baru..

Ayah: Ya,, ya,, ya,, kamu memang beberapa kali melakukan kesalahan yang cukup mendasar, akan tetapi terlepas dari itu semua kamu juga berandil besar dalam terjadinya gol Boaz. Menurut bapak permainanmu tidak jelek..

Ucapan ayah saya tersebut membuat saya cukup terperanjat, bukan sebuah kebiasaan ayah saya memberikan pujian atau memberi penilaian positif dalam permainan saya. Sejurus kemudian ayah sayapun melanjutkan perkataannya..

Ayah: Apa yang bapak maksud bukan permainanmu..
Saya: Jadi..?? (Kata saya dengan nada penuh tanya)
Ayah: Akan tetapi perilakumu..
Saya: Haahh..?? Prilaku saya pak..?? (Tanya saya semakin heran)
Ayah: Mengapa saat kamu di ganti dan keluar lapangan kamu tidak mengucapkan terima kasih kepada penonton yang hadir di stadion..??

Saya sangat terkejut mendengar kalimat ayah saya tersebut dari seberang sana. Memang betul semalam ketika di ganti saya memang hanya berjalan lurus tanpa bertepuk tangan tanda terima kasih atas dukungan penonton yang hadir di stadion. Beberapa saat kemudian sayapun lanjut berkata dengan sedikit geram..

Saya: Bagaimana saya mau berterima kasih pak, sedang sepanjang pertandingan mereka menghujat saya. Wajarlah jika saya kecewa..

Ayah: Kamu pikir kamu pantas melakukan itu..??

Saya: Iya pak. Anak-anak ABG itu tidak mengerti, ketika mereka baru belajar berbicara dan mengeja kata G-O-L, saya sudah mencetak gol untuk Merah-Putih pak. Ini pertama kali sepanjang 11 tahun saya bermain untuk tim nasional dan ini bermain di Jakarta, lain cerita jika main di Bandung pak.. (Cerocos saya membela diri)

Ayah: Kamu pikir mereka akan peduli dengan apa yang kamu lakukan 2, 3, 5 atau 11 tahun yang lalu..?? Yang mereka tau adalah sekarang, bukan kemarin, minggu lalu apalagi tahunan yang lalu..

Saya: Tapi setidaknya mereka bisalah pak untuk sedikit menghargai saya..

Ayah: Ooooo,, kamu salah kaprah Mbang..

Saya: Maksud bapak..?? (Tanya saya dengan nada heran)

Ayah: Terlepas dari apapun teriakan mereka, kamu dan seluruh pemain harus tetap menghargai mereka, karena mereka datang ke stadion pasti dengan tujuan untuk mendukung kalian. Dan apapun alasannya kalian harus berterima kasih kepada mereka..

Seketika sayapun terdiam, kalimat ayah saya tersebut tepat menghujam ke relung hati saya yang paling dalam..

Ayah: Apalagi kamu adalah kapten sekaligus pemain paling senior dalam tim nasional, seharusnya kamu memberikan contoh yang baik bukan malah melecehkan penonton seperti itu..

Saya: Tidak ada sedikitpun niatan saya untuk melecehkan penonton pak, lagipula saya rasa tindakan saya semalam cukup wajar, dan saya rasa mereka juga tidak peduli pak.. (Jawab saya membela diri dengan bibir sedikit bergetar)

Ayah: Mereka mungkin tidak peduli, akan tetapi bapak peduli..

Saya: Jujur saya syok pak dan tidak tahu harus berbuat apa, saya merasa belum siap menghadapi situasi seperti semalam..

Ayah: Sepakbola itu tentang "Menghargai". Menghargai diri sendiri, menghargai teman, menghargai lawan, menghargai penonton dan juga menghargai permainan sepakbola itu sendiri secara utuh..

Saya: Iya pak, saya mengerti..

Ayah: Apalagi besok lawan Maladewa main di Bandung, bermain baguspun kamu pasti tetap di dicaci-maki, apalagi jika tampil buruk. Lupakan itu semua, mereka tetaplah pendukung Indonesia, hanya saja mungkin tengah mendukung dengan cara yang sedikit berbeda. Bapak tidak mau hal semalam terjadi lagi, bapak akan melihat dari layar TV..

Dan sekali lagi, saya hanya mampu berkata "Iya pak, saya mengerti"..

Hari itu 9 Oktober 2010, sisi emosional saya sebagai pemain sepakbola benar-benar di sentuh, mental saya sebagai pemain yang sudah satu dekade berlabel tim nasional disentil dan loyalitas saya terhadap profesi yang sangat saya cintai pun serasa tertampar. Bak seorang petinju yang menerima sebuah uppercut telak, saya pun tak berdaya menopang berat badan saya sendiri dan pada akhirnya roboh tersungkur menyentuh lantai, dengan sangat kerasnya..

Beberapa waktu yang lalu saya sempat menulis demikian di akun Twitter saya:
@bepe20: Tahapan perjalanan karir seorang Pesepakbola: Debut --» Hah, Hei, Nah, Yeah, Wohoo, Mmm, Argh, Boo diakhiri dgn Tepuk Tangan --» Pensiun..
Maksud Tweet diatas akan coba saya perjelas sebagai berikut:
# Hah - Hah siapa ini..??
# Hei - Hei ini yang kemarin ya..??
# Nah - Nah ini dia nih..
# Yeah - Yeah that's my man..
# Wohoo - Wohoo he did it again..
# Mmm - Mmm kok gini sih..?? Ayo coba lagi..!!
# Argh - Argh gimana sih, bego amat..!!
# Boo - Booooo dia lagi-dia lagi, udah bisa diganti kaleeeee..!!

Tahapan-tahapan dimana seorang pemain sepakbola akan memulai debutnya, mulai dikenal dan menyita perhatian publik, menjadi idola dan dipuja-puja masyarakat, mulai diragukan dan diperdebatkan, hingga di caci maki serta pada akhirnya harus pensiun..

Sebuah tatanan proses yang menurut saya suka-tidak suka, rela-tidak rela dan ihklas tidak ihklas harus dilewati. Di butuhkan mental yang kuat untuk dapat melewati tahap demi tahap dengan mulus, baik di awal meniti karir, saat menjadi idola dan di Agung-agungkan, apa lagi ketika mulai di ragukan seta di caci-maki. Saya sendiri cukup paham dan sadar betul dengan kenyataan yang saya atau lebih tepatnya kami harus hadapi.

Dan sejujurnya kita tidak pernah dapat menyalahkan mereka para suporter. Mereka tidak akan pernah peduli dengan bertambahnya usia, kekuatan otot yang mulai berkurang, menurunnya stamina sehingga membuat akurasi dan determinasi secara otomatis juga tereduksi. Hal yang mereka pedulikan hanyalah penampilan terbaik dan hasil terbaik dalam setiap kesempatan. Dan sayangnya mereka memang berhak untuk berlaku demikian..

Dalam sebuah kehidupan, terkadang kenyataan memang tak seindah apa yang kita ingin dan bayangkan. Terlepas dari kegagalan demi kegagalan, kesalahan demi kesalahan, kebodohan demi kebodohan serta kekalahan demi kekalahan yang terjadi dalam karir saya, saya merasa sangat bangga dengan pencapaian saya sejauh ini. Karena setidaknya, saya telah mengahabiskan hari demi hari selama 12 tahun karir saya untuk selalu berusaha menjadi lebih baik..

Terkadang saya  merasa kasihan kepada banyak orang di luar sana, yang menghabiskan waktu dan energi mereka hanya untuk menunggu, mencari serta pada akhirnya menghakimi kesalahan-kesalah yang diperbuat oleh orang lain. Terkadang saya berpikir, mengapa orang-orang tersebut tidak melakukan sesuatu untuk diri mereka sendiri,nuntuk kebanggan mereka sendiri, untuk kelangsungan hidup mereka sendiri dan juga untuk harkat dan martabat mereka sendiri..

"Setiap orang yang berusaha dan bekerja keras, suatu saat pasti akan melakukan kesalahan. Sedangkan mereka yang hanya duduk berdiam diri serta berpangku tangan, tidak akan pernah melakukan kesalahan"

Karena harus di ingat, definisi kesuksesan yang sebenarnya bukan berada pada penilaian dari orang-orang di luar sana, melainkan berada pada sejauh mana kita mampu memaksimalkan potensi pada diri kita untuk mampu mencapai sesuatu, dan hal tersebut hanya dapat dinilai oleh diri kita sendiri bukan orang lain. Karena pada akhirnya yang paling mengerti diri kita adalah diri kita sendiri. Demikian halnya yang paling mengerti sajuh mana potensi yang ada pada diri kita, jugalah diri kita masing-masing..

Maka mari bekerja keras untuk mencapai sesuatu, bukan untuk mengalahkan orang lain. Karena mungkin saja pada sebuah tahab, kita sudah mampu mengalahkan orang lain. Dan ketika kita sudah merasa puas dengan hal tersebut, maka kita hanya akan berhenti sampai disana saja. Padahal mungkin dengan potensi yang kita miliki, kita mampu melangkah lebih jauh lagi, bukan hanya sekedar mengalahkan orang tersebut. Jangan pernah terbelenggu dengan sifat iri, dengki, keki, benci serta dendam terhadap seseorang. Karena sejatinya hal tersebut hanya akan membatasi potensi serta ruang gerak kita untuk berkembang dan menjadi jauh lebih baik dari siapa diri kita saat ini..

"If I was able to walk upright under the blazing sun.. Then I should be able to do the same in the swiftness of rain.."

Karena, jika saya mampu berjalan tegak dengan senyum mengembang saat berada di puncak kesuksesan. Maka saya juga harus mampu, untuk berjalan tegak dengan senyum di bibir (Walau dengan sedikit kecut) saat saya berada pada tahapan sulit dalam karir saya. Karena itulah hidup, roda itu akan selalu berputar..

Mungkin pada saat ini, karir saya sudah pada tahap "Argh" atau mingkin malah "Booooo", akan tetapi yakinlah jika saya akan terus berusaha keras sekuat tenaga untuk berusaha membuat kalian semua sedikit tersenyum disela-sela teriakan "Argh" atau malah "Booooo" tersebut. Hal tersebut saya lakukan bukan untuk kalian, sama sekali bukan untuk kalian. Hal tersebut saya lakukan untuk kepuasan pribadi saya sendiri..

Dalam tahapan karir saya saat ini, saya tidak merasa perlu untuk membuktikan apapun kepada siapapun. Semua yang saya lakukan dan kerjakan saat ini, adalah murni karena pekerjaan dan kecintaan saya terhadap profesi saya tersebut, tidak lebih dan tidak kurang. Satu hal yang selalu ingin saya teriakan kepada kalian semua di luar sana, adalah:

Hey...!! My name is Bambang Pamungkas and "I Live For This SH*T"...!!!

Selesai..





Dikutip dari "http://bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/umum/2011/12/25/114/i-live-for-this-sh-t#.UWnAfUohH9A"

"Smile"

Penulis: bepe, 24 September 2011
"Smiling is infectious..
 you can catch it like the flu..
Someone smiled at you today..
and you started smiling too.."

Tesenyum adalah hal yang sangat mudah serta menyenangkan. Dalam kapasitas yang sedikit lebih tinggi hal tersebut kita kenal dengan nama tertawa. Sebagian besar dari kita dalam banyak kesempatan pasti pernah melakukan hal tersebut. Dan tanpa kita sadari, sebenarnya tersenyum atau tertawa itu sangatlah baik bagi kesehatan..

Dr. Lee Berk, seorang imunolog dari Loma Linda University di California, AS, juga pernah berujar tentang tertawa. Tertawa bisa mengurangi peredaran dua hormon dalam tubuh, yaitu efinefrin dan kortisol, yang bisa menghalangi proses penyembuhan penyakit. Dalam riset lain dr. Rosemary Cogan dari Texas Tech University menemukan bukti bahwa rasa nyeri atau sakit akan berkurang setelah tertawa. Tidak itu saja, kekebalan tubuh pun bisa meningkat..

Tertawa bersama teman-teman dekat Anda terbukti dapat melepas zat kimia otak yang membuat orang merasa lebih baik, sekaligus meredakan sakit. Hasil riset terbaru peneliti tersebut mengindikasikan bahwa tertawa memicu dilepaskannya hormon endorfin, sama seperti jika Anda berolah raga atau melakukan aktivitas lain. Zat kimia pereda nyeri itu terbentuk sebagai tanggapan atas kegiatan olah raga, kegembiraan, rasa nyeri, makanan pedas, cinta dan orgasme seksual..

Saya sendiri adalah pribadi yang sangat suka bercanda, walaupun ketika didalam lapangan saya dikenal sangat serius dan susah tertawa, hal tersebut sama sekali tidak menggambarkan saya dalam kehidupan sehari-hari. Seperti apa yang sempat saya sampaikan dalam beberapa artikel, di luar dan didalam lapangan saya adalah sebuah pribadi yang berbeda 180 derajat. Dalam kehidupan keseharian saya adalah manusia yang boleh dikatakan cukup jahil dan nakal hehehe..

Dibawah ini salah satunya. Pada kesempatan kali ini saya ingin sedikit bercerita mengenai kejadian-kejadian konyol serta lucu dalam kehidupan keseharian kami para pemain nasional dalam training camp..

Dan tanpa berpanjang lebar, mari kita segera memulainya:
Cerita pertama:
Saya sendiri kurang begitu ingat kapan tepatnya peristiwa ini terjadi. Akan tetapi saya rasa peristiwa ini terjadi setelah kepulangan tim nasional dari lawatan ke Kuala Lumpur dalam Final pertama Piala AFF 2010..

Ketika itu kami (Saya dan Firman) menempati sebuah kamar yang berbeda dengan kamar saat sebelum kami bertolak ke Kuala Lumpur. Kamar kami saat ini sama-sama berada di sudut bangunan akan tetapi berada di sayap yang berbeda. Perlu diketahuinya jika Hotel Sultan tempat kami menginap berbentuk huruf L..

Pada kamar yg pertama (Sebelum kami bertolak ke Kuala Lumpur) arah kiblat di kamar tersebut adalah mengarah ke jendela luar. Maka ketika kami memasuki kamar kami yang baru, sayapun masih berpikir jika arah kiblat di kamar ini tetap kearah luar jendela. Pada saat itu kami sampai di hotel pada saat sholat Dzuhur hampir habis, maka dengan segera kami berdua mengambil air wudhu dan menjalankan sholat..

Setelah selesai berwudhu maka sayapun segera menjalankan sholat, Ketika saya mulai sholat Firman tengah mengambil air wudhu. Tanpa berpikir panjang, sayapun melakukan sholat ke arah kiblat yang saya yakini, yaitu kearah jendela luar. Setelah setelah rekaat pertama, tiba-tiba terdengar suara Fiman berkata perlahan di belakang punggung saya sambil sedikit menahan tawa, "OK bro kali ini kita sholat punggung-punggungan ya". Tanpa menghiraukan ucapan Firman, sayapun menyelesaikan sholat saya..

Ketika saya melakukan salam tanda berakhirnya sholat, disitulah saya baru sadar jika Firman melakukan sholat dengan arah kiblat yg bertolak belakang dengan saya. Maka segera saya menuju meja kamar dan menarik lacinya, dimana terdapat petunjuk arah kiblat di kamar ini, dan ternyata Firman benar saya memang telah melakukan sholat dengan arah kiblat yg salah..

Seketika sayapun tertawa terpingkal-pingkal dengan sedikit tertahan, karena takut mengggangu Firman yang telah melakukan sholat. Dalam benak saya seketika terbayang tawa rekan-rekan yg akan mendengar cerita ini dari Firman. Sudah menjadi kebiasaan, jika ada salah satu anggota pemain melakukan kesalahan atau mengalami kejadian yg konyol, maka hal tersebut akan di bahas dalam forum pemain saat makan malam, dan itu cukup membuat kuping dan muka pemain bersangkutan memerah hahaha..

Setelah selesai sholat Firmanpun berkata,"Mampus lo ya, sekarang gue punya koncian hahaha", sayapun menjawab "Lagian kenapa lo ngga tegesin kalo gue salah kiblat Man, kan gue bisa otomatis pivot (Gerakan memutar dalam olahraga Basket) pas sujud", jawab saya dengan senyum kecut. Kalimat tersebut membuat kami berdua semakin tertawa terbahak-bahak..

Dan saat ini, cerita tersebut sudah menyebar ke semua pemain tim nasional Indonesia. Tidak hanya pemain yang masih aktif memperkuat tim nasional, akan tetapi cerita ini juga sudah menyebar sampai ke para pemain senior yang sudah tidak berada didalam tim lagi, seperti Ismed Sofyan, Ponaryo Astaman, Isnan Ali, Aliyudin hingga Charis Julianto. Sehingga kalimat pertama saat mereka bertemu saya adalah, "Gimana bro, masih salah kiblat..??" dan kamipun tertawa bhahahaha..

Cerita ke dua:
Sudah menjadi sebuah tradisi dalam tim sepakbola jika ada pemain yang berulang tahun akan mengalami perlakuan yg special, ehmmm atau mungkin siksaan yg menyedihkan adalah kalimat yg lebih tepat. Hal tersebut berlaku untuk setiap personil tim tanpa terkecuali, saya sendiri hampir setiap tahun merasakannya, baik di tim nasional maupun di Persija Jakarta..

Hal yang ingin saya ceritakan dibawah ini adalah kejadian yg menimpa sahabat saya Firman Utina. Kejadian ini terjadi pada saat gelaran Piala AFF 2010 digelar, Firman Utina sendiri lahir pada tangal 15 Desember atau berada ditengah-tengah turnamen tersebut..

Seperti biasa pada tanggal tersebut Firman harus mengalami kejadian yang kurang menyenangkan, diantaranya siraman beberapa hal yang lazim diberikan kepada pemain yang tengah berulang tahun, beberapa diantaranya adalah telor (Baik yg masih utuh maupun yg sudah dikocok), thousand island dressing, kecap, susu serta tepung terigu. Dan hal tersebut terjadi tidak hanya pada satu waktu akan tetapi sepanjang hari. Sehingga selama hari belum berganti, Firman harus siap atau menerima kejutan dari kami, dan hal tersebut membuat semua baju firman hari itu masuk laundry hehehe..

Sedang saya sendiri memang tidak pernah terlibat dalam acara pelemparan tersebut, hal tersebut bukan dikarenakan saya adalah pribadi yg baik hati, akan tetapi lebih karena saya selalu geli serta kurang nyaman dengan bau amis telor. Oleh karena itu dalam setiap acara penyiksaan rekan satu tim, saya selalu mencari cara saya sendiri untuk melakukan penyiksaan..

Pada siang hari setelah makan siang, tiba-tiba Markus Horison dan Maman Abdurrahman datang kekamar saya. Saat saya membuka pintu, mereka berdua berkata "Firman mana bro..??", maka seketika sayapun memanggil Firman yang saat itu tengah merebahkan diri di kasur. Dan Firmanpun segera bangkit menemui Markus serta Maman ke depan pintu...

Ketika jarak mereka tinggal selangkah, tiba-tiba Markus dan Maman memecahkan telor ke kepala Firman dan segera melarikan diri. Hal terebut membuat Firman kaget dan berteriak "Ba** lo ya, setaaaannn...!!!", dan terjadilah kejar-kejaran di lorong hotel Sultan siang itu...

Sayapun tertawa terbahak-bahak melihat hal tersebut. Di saat Firman tengah sibuk mengejar Markus dan Maman, timbulah sebuah ide brilian di otak saya. Setelah itu sayapun mengambil semua persediaan teh serta kopi yg ada di meja dan beranjak menuju kamar mandi. Semua teh dan kopi tersebut saya masukkan kedalaman botol shampo milik Firman dan mengocoknya sampai tercampur rata. Pertimbangan saya adalah, sebentar lagi Firman pasti akan membersihkan rambutnya dengan berkeramas, itu artinya dia akan sangat membutuhkan shampo ini hehehehe..

Saat Firman pulang kekamar, sayapun bertanya "Gimana bro, dapet lo ngejar mereka..??" dengan muka kesal sambil tertawa kecut dia menjawab "Dapat apaan, mereka udah keburu masuk kamar dan dikunci", sayapun tertawa dan berkata "Udah sana mandi, bau amis semua nih", "Habis dah baju gue semua masuk laundy. Gue mandi dulu ya bro, lo tolongin bersihin telornya di lantai" kata Firman, "Siap bro..!!! Segera dilaksanakan", jawab saya singkat.. 

Firmanpun masuk ke kamar mandi. Dengan sedikit menahan mual karena bau amis sayapun mulai membersihkan sisa-sisa telor yg berceceran dilantai. Sambil mengepel lantai saya membayangkan apa kira-kira reaksi Firman beberapa saat lagi, dan hal tersebut membuat perut saya hampir kram menahan tawa..

Benar saja. Beberapa saat kemudian terdengar teriakan Firman dari dalam kamar mandi "Bambang Pamungkas An***************ng...!!!", mendengar hal tersebut sayapun bertanya dengan polosnya ke Firman, "Ada apalagi bro..??", dari dalam Firman kembali berteriak "Lo kasih apaan ini shamponyaaaaaaaaa..!!! Dan sayapun tertawa terbahak-bahak mendengarnya bhahahahahaha...

Cerita ke tiga:
Seperti yang saya singgung diatas tadi, jika pada saat setelah makan malam biasanya kami membuka forum diskusi diantaranya pemain. Hal terebut kami lakukan selain untuk sekedar membunuh waktu, juga digunakan untuk menjalin keakraban diantaranya pemain. Dalam beberapa kesempatan hal tersebut tidak hanya diisi oleh hal-hal yang serius, akan tetapi juga hal-hal yang cukup santai bahkan menjurus lucu. Berapa pemain bercerita mengenai hal-hal yang lucu, dan hal tersebut mampu membuat kami semua yang mendengar tertawa terbahak-bahak. Cerita dibawah ini adalah beberapa contohnya..

- Cerita dari Hamka Hamzah:
Pada suatu ketika ada seorang tukang becak yg salah masuk jalan yang seharusnya tidak boleh dilewati oleh becak. Maka dengan segera seorang polisi meniup peluit dan memberhentikan tukang becak tersebut..
Polisi: Heeyy..!! Apa kamu tidak melihat tanda rambu disana..??
Tukang becak: Maaf pak saya tidak melihat.. (Jawab si tukang becak dengan nada menyesal)
Polisi: Maaf,, maaf,, kamu ini buta apa goblok..!!! (Kata polisi dengan mata melotot)
Tukang becak: Iya pak maaf,, maaf..
Polisi: Makanya kalau jalan matanya di pake, dasar goblok...!!!
Karena selalu dimaki dengan kata "Goblok" padahal sudah meminta maaf, akhirnya si tukang becakpun naik pitam. Dan dengan raut muka yang tidak kalah galak, tukang becak tersebut balik berteriak "Bapak yang buta dan goblok...!!!". Mendengar ucapan si tukang becak, si polisipun kaget setengah mati dan bertanya "Hah..!!! Kenapa jadi kamu yang marah ke saya..??"
Tukang becak: Bapak yang goblok dan buta, coba lihat gambar itu.. (Kata dia sambil menunjuk gambar rambu-rambu)
Polisi: Kenapa memangnya dengan gambar itu..?? (Tanya polisi serius)
Tukang becak: Disana kan hanya ada gambar becak tanpa penumpang, sedang saat ini saya sedang membawa penumpang, jadi seharusnya saya boleh melewati jalan ini pak. Memang dulu sebelum masuk polisi tidak ada test mata ya pak..?? Yang model begini kok bisa jadi polisi..!!!
Mendengar penjelasan tersebut si polisipun terbengong-bengong sambil garuk-garuk kepala..
Kami yang mendengar cerita tersebutpun tertawa bersama-sama bhahahahaha..

- Cerita dari Firman Utina (Berdasarkan kisah nyata) :
Pada setiap bulan ramadhan, sudah menjadi sebuah hal yg wajib jika setiap kampung mengadakan perlombaan yang berkaitan dengan keagamaan, seperti lomba membaca AL Quran, ber Adzan dll. Hal yang akan diceritakan oleh Firman ini adalah mengenai lomba Adzan yg dilakukan dikampungnya, hal tersebut terjadi bertahun-tahun yang lalu saat Firman masih berada di sekolah dasar..
Semua anak kecil berkumpul di mushola kampung saat lomba Adzar dilaksanakan. Seperti kebiasaan anak kecil saat menunggu giliran, merekapun bercanda-tawa, termasuklah Furman Utina. Ditengah tawa riang mereka yang tengah bersenda gurau, tiba-tiba panitia berteriak memanggil "Parto..!! Mana si Parto, ayo sekarang giliran Parto"..
Dengan terlihat sangat kaget Partopun seketika berdiri dan meninggalkan Firman dan kawan-kawan menuju ke atas mimbar. Di tengah kekagetannya tersebut tiba-tiba Partopun lupa sama sekali dengan lafadz Adzan, padahal biasanya hal tersebut dia hafal di luar kepala..
Ditengah kepanikan serta keraguan Parto, diapun mulai melakukan Adzan. Akan tetapi alih-alih melakukan Adzan, akan tetapi apa yang keluar dari mulut si Parto adalah lafazd Takbir..
Allaahu Akbar... Allaahu Akbar... Allaahu Akbar..
Mendengar apa yang diserukan si Parto, seketika semua yang hadirpun dengan serentak menjawab:
La - ilaaha - illallaahu - wallaahu Akbar..
Allaahu Akbar - walillaahil - hamd..
Maka dengan begitu, disaat kampung lain masih menjalankan ibadah puasa ramadhan, kampung Firmanpun secara resmi melalui si Parto sudah lebih dahulu berlebaran. Dan sejak saat itu si Parto memiliki sebuah nama marga baru, yaitu Parto Idhul Fitri Hahahaha..
Seperti yang saya sampaikan di awal cerita tadi, bahwa cerita ini adalah kisah nyata. Maka saat ini di Manado dalam kehidupan nyata, si Parto yang saat ini berprofesi sebagai pedagang kain masih menyandang gelar tersebut, yaitu Parto Idhul Fitri..
Dan kamipun kembali tertawa hahahaha..
"Hidup ini akan jauh lebih indah ketika kita sudah mampu menertawakan diri sendiri"
Tidak ada yg salah dengan kebiasaan kita tersenyum juga tertawa. Yang salah dengan kebiasaan tersebut adalah jika kita tersenyum atau tertawa diatas penderitaan orang lain. Dalam perkembangannya di masyarakat luas, manusia lebih sering mengerutkan jidatnya pertanda tidak suka ketika orang lain melakukan sebuah keberhasilan, dan sebaliknya akan tersenyum atau malah tertawa lebar ketika orang lain mengalami kegagalan. Atau sering kita kenal dengan istilah "Susah melihat orang senang dan senang melihat orang susah", dan ini barulah hal yang salah..
"Life is like a mirror, we get the best results when we smile at it" - Anonim
Maka tersenyum dan tertawalah rekan-rekan, karena disamping menyehatkan hal tersebut juga berpahala, tentu dalam artian yang positif serta baik..
Selamat berakhir pekan rekan-rekan dan salam untuk seluruh anggota keluarga Anda..
Selesai...




Dikutip dari "http://bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/umum/2011/09/24/110/smile#.UWm_LUohH9A"

"Maafkan Daku Sobat"

Penulis: bepe, 22 October 2011
Setelah bermain selama dua musim di Malaysia bersama Selangor FC, pada musim 2007/2008 akhirnya saya memutuskan untuk kembali ke Indonesia dan bermain kembali bersama Persija Jakarta. Persija Jakarta adalah satu-satunya klub profesional yang saya bela selama bermain di Liga Indonesia sampai dengan saat ini.

Persija Jakarta adalah sebuah klub yang memiliki kesan sangat mendalam dalam perjalanan karier saya. Di klub ini saya mengalami banyak sekali kejadian-kejadian baik suka maupun duka. Saya pernah merasa bahagia, tersenyum, sedih, menangis hingga depresi di klub ibu kota ini.

Bersama Persija Jakarta saya pernah  meraih gelar juara, pencetak gol terbanyak, pemain terbaik, pemain muda terbaik, mengalami cedera panjang karena patah kaki, hingga depresi. Semua pernah saya alami di sini. Bahkan di musim 2002/2003, saya juga pernah mengalami ancaman pembunuhan dari salah satu suporter Persija, The Jakmania, melalui telepon. Kala itu, suporter tersebut merasa sangat kecewa dan keberatan dengan rumor kepindahan saya ke klub lain. Mengenai peristiwa tersebut nanti akan saya ceritakan dalam kesempatan yang berbeda.

Singkat cerita, pada putaran kedua musim 2007 karena masalah teknis, Persija melakukan pergantian kapten tim. Saat itu saya ditunjuk menjadi kapten baru menggantikan Javier Rocha yang hijrah ke klub lain. Awalnya saya menolak karena saya pikir masih ada pemain lain yang lebih layak untuk menjabat kapten tim selain saya, yaitu Ismed Sofyan.

Menurut pendapat saya, Ismed lebih berhak karena dia sudah bermain selama 4 tahun berturut-turut di klub ini. Sedangkan saya, memang bukan wajah baru di tim ini, karena saya sudah bermain selama 6 tahun disini sebelum memutuskan hijrah ke Selangor FC, tetapi dengan status sebagai pemain yang baru kembali memperkuat tim ini, saya merasa kurang layak jika saya menjabat kapten tim saat itu.

Akan tetapi, dengan berbagai alasan ketika itu Ismed menolak jabatan tersebut. Dan jajaran pengurus pun akhirnya memutuskan untuk menunjuk saya sebagai kapten tim, dan Ismed Sofyan sebagai wakil kapten. Maka jadilah saya kapten Persija Jakarta untuk yang kedua kalinya setelah sempat menjabat beberapa kali di tahun 2003/2004. Dan jabatan itu sendiri masih saya pegang sampai dengan saat ini.

Sebagai kapten dan wakil, maka kamipun aktif berubungan dengan pihak kepengurusan mengenai segala permasalahan yang terjadi di dalam tim. Biasanya kami berhubungan dengan Bapak I.G.K. Manila yang saat itu menjabat sebagai manajer tim. Beberapa kali, kami juga berdiskusi dengan pengelola tim yaitu Bapak Haryanto Badjoeri. Tetapi, dalam keseharian kami lebih sering berdiskusi dengan Engkong, panggilan akrab kami kepada Pak Manila.

Dalam golongan pemain bola, mungkin saya dapat dikategorikan dalam kelompok orang-orang yang cukup usil atau jahil, terutama terhadap sahabat-sahabat saya sendiri. Pada suatu ketika, entah mengapa tiba-tiba terlintas di benak saya untuk berbuat usil kepada Ismed Sofyan, teman sekamar saya.

Dalam kesehariannya, Ismed sofyan merupakan pribadi yang cukup serius dan tidak banyak berbicara. Akan tetapi bukan berarti Ismed tidak dapat bercanda, walaupun memang tidak semua orang mampu membuat manusia yang satu ini untuk tertawa.

Saya pertama mengenal Ismed saat ada kejuaraan antar Diklat di Salatiga pada pertengahan  tahun 1996. Saat itu seharusnya saya juga turut bermain dalam kejuaraan tersebut, akan tetapi karena nomor induk anggota Diklat saya masih dalam proses, maka dengan berat hati saya tidak dapat bermain dan harus rela menjadi penonton. Karena masalah tersebut, akhirnya saya mendapatkan tugas baru dari pelatih Diklat Salatiga ketika itu Mas Haryadi (Sekarang menjadi pelatih Persiba Balikpapan), yaitu menjadi fotografer sekaligus tukang bawa air minum untuk tim Diklat Salatiga.

11 tahun sudah saya mengenal manusia satu ini (1996 - 2007), oleh karena itu sedikit banyak saya tahu betul dengan sifat dari sahabat saya tersebut. Suatu ketika saat kami sedang makan siang di sebuah hotel di Makassar, saya menemukan ponsel Ismed terjatuh di lantai ruang makan, maka dengan segera sayapun menyelamatkan, menyembunyikan mungkin kata yang lebih tepat, alat komunikasi tersebut.

Niat awal saya yang hanya ingin menyembunyikannya saja tiba-tiba berubah ke arah yang lebih jahil lagi. Saya mengubah salah satu nomor telepon saya, Ismed mempunyai dua nomor ponsel saya di memori ponselnya, dengan nama presiden klub kami yaitu Bapak Harianto Bajoeri. Agar ketika saya sms atau tlp yang keluar adalah nama beliau hehehehe.

Setelah selesai mengubahnya, maka dengan memasang raut muka baik hati sayapun mengembalikan ponsel tersebut kepada Ismed sambil berkata, "Nih HP lo tadi jatuh, untung gue temuin tadi di ruang makan, kalo ngga udah wassallam boss. “

Ismedpun menjawab: "Wah terima kasih, tumben lo baik ama gue hehehe.” Dengan demikian, maka resmilah salah satu nomor saya berganti nama menjadi Haryanto Bajoeri di ponsel Ismed hahahahaha.

Malam harinya saya mulai beraksi, malam itu kami tengah asyik menonton sebuah acara TV. Secara sembunyi-sembunyi saya mengirimkan sms yang berbunyi "Selamat malam, bagaimana keadaan tim? baik-baik saja kan? Salam buat pemain yang lain.” Di tengah keseriusan kami dalam menikmati acara TV, tiba-tiba Ismed beranjak dari posisi tidurnya dan berbicara dengan nada setengah heran. Di bawah ini kira-kira percakapan kami malam itu.

Ismed: “Eh eh Mbang, Pak Bajoeri sms gue nih.”

“Ah yang bener lo? Tumben amat Med. Ngomong apa Pak Bajoeri?” tanya saya dengan setengah menahan tawa.

Ismed: “Iya nih, gue juga kaget ada angin apa Bapak (Sebutan kami untuk Pak Bajoeri) sms gue.”

"Iya, apa Bapak bilang?” tanya saya dengan muka penasaran.

Ismed: “Bapak nanya keadaan tim, eh Bapak tahu nomor telepon lo ngga?”

Saya : “Tahu lah seharusnya, kan waktu itu ajudan Bapak minta nomor kita berdua.”

“Tapi, kenapa Bapak ngga sms lo ya, kenapa malah sms gue? Ismed bertanya dengan nada heran.

Saya : “Iya kan sama saja Med, toh kita sekamar juga.”

“Jadi gue harus gimana nih?” tanya Ismed lagi dengan muka yang sangat serius.

“Ya sampaikan saja apa yang terjadi di dalam tim,” jawab saya dengan muka sok tenang hehehe.

Ismed: “Ok-ok baik lah kalau begitu.”

Saat itu saya tengah tiduran di atas tempat tidur, dengan posisi badan membelakangi Ismed. Ponsel sengaja saya sembunyikan di bawah bantal dan dalam keadaan silent, sehingga tidak terdengar suara apapun ketika Ismed membalas sms dari Bapak Bajoeri gadungan (Saya) tersebut. Sesekali Ismed menanyakan apa kira-kira yang harus dia jawab atas pertanyaan dari bapak. Melihat keseriusan dia dalam menanggapi sms tersebut, beberapa kali sukses membuat saya kram perut karena menahan tawa.

Sesekali di malam hari menjelang tidur, Bapak (atau saya lebih tepatnya) mengirimkan sms yang berisi wejangan atau pesan kepada Ismed Sofyan. Dalam sms itu tidak lupa saya juga menyampaikan agar pesan saya tersebut disampaikan kepada Bambang, dan dilanjutkan kepada seluruh anggota tim. Dan dengan seketika Ismed pun akan langsung menyampaikan pesan tersebut kepada saya dengan raut muka yang sangat serius hahahaha.

Agar tidak menjadi sesuatu yang aneh dan terkesan janggal, maka sayapun beberapa kali menyampaikan pesan tersebut kepada seluruh pemain, di saat akhir latihan sebelum do’a penutup. Saya harus melakukan hal tersebut agar Ismed tidak curiga dengan skenario yang saya buat. Sejujurnya saat berbicara di depan pemain, saya harus menahan tawa yang luar biasa, akan tetapi setidaknya memberikan semangat kepada tim bukanlah sebuah hal yang negatif bukan..?? walau sebenarnya wejangan tersebut berasal dari saya sendiri.

Pernah suatu ketika, saya tidak mampu menahan tawa ketika Ismed menemui saya dengan sedikit tergopoh-gopoh dan menyampaikan jika ada sebuah sms dari Bapak. Melihat tingkah Ismed sayapun tertawa terbahak-bahak. Melihat saya tertawa, reaksi Ismed ketika itu adalah marah. Dia marah karena sebagai kapten tim saya dianggap tidak serius dalam menanggapi sms dari Bapak. Ismed menganggap saya kurang peduli dengan perkembangan tim ini. Melihat Ismed yang marah dengan alasan demikian, tentu membuat tawa saya semakin keras saja.

Peristiwa tersebut membuktikan, jika Ismed adalah seorang pribadi yang sangat serius dan bertanggung jawab dengan apapun yang terjadi di dalam tim yang dia bela. Dan memang demikianlah adanya seorang Ismed Sofyan yang saya kenal selama bertahun-tahun. Sepanjang saya mengenal seorang Ismed Sofyan, dia adalah salah satu dari tidak banyak pemain yang akan selalu memberikan kemampuan terbaiknya, baik saat latihan apalagi dalam sebuah pertandingan. Ia juga sangat peduli dengan keadaan yang terjadi di dalam tim. baik klub maupun tim nasional. Komitmennya terhadap tim tidak akan pernah berubah dalam apapun keadaannya.

Skenario itu sendiri berjalan kurang lebih selama 3 bulan. Dan selama 3 bulan jugalah, saya selalu ingin tertawa jika sedang berbicara dengan Ismed, terlebih lagi ketika membahas perkembangan komunikasi dia dengan Bapak (Haryanto Bajoeri).

Skenario yang berjalan mulus selama 3 bulan tersebut, akhirnya harus berantakan karena sebuah kesalahan atau kelalaian yang saya buat sendiri. Kelalaian itu terjadi ketika Persija tengah berada di Surabaya, melakoni partai away melawan Deltras. Saat itu saya tengah makan bandeng penyet di gang Kaliasin Pompa, di samping Tunjungan Plaza, sedangkan Ismed berada di kamar hotel. Saat itu saya ingin berbicara melalui telepon dengan Ismed, mengingat nomor yang biasanya saya pakai batereinya tengah habis, maka tanpa rasa ragu saya mengunakan nomor ponsel saya yang satu lagi.
Di sinilah letak kelalaian saya, nomor yang saya pakai adalah nomor  yang di ponsel Ismed tersimpan dengan nama Pak Haryanto Bajoeri. Saat itu saya berkata: "Med dimana lo?”

Di seberang Ismed menjawab: "Selamat siang Pak, saya sedang di hotel.”

"Ini gue Bambang, main pak-pak aja lo," timpal saya dengan sedikit marah.

Seketika dari seberang sana terdengar suara Ismed menjawab dengan sedikit ragu-ragu: "Hah..?? Ini siapa ya..??"

"Ini gue Bambang, lo mau di bungkusin bandeng penyet ngga? Emang nomor gue ngga lo simpen ya?” jelas saya masih dengan tidak sadarnya.

"Lah kok di sini tulisannya Pak Bajoeri..??" jawab Ismed di seberang sana.

Mendengar jawaban tersebut seketika sayapun tersadar, kalau saya tengah menggunakan nomor telepon yang biasa saya pakai untuk SMS Ismed. Dan nasipun sudah menjadi bubur, semenjak kejadian tersebut Ismed pun tahu jika saya telah mengubah salah satu nama saya dengan nama Pak Bajoeri di ponselnya. Dan dia pun sadar jika selama ini dia telah berkomunikasi dengan saya, bukannya pengelola kami Bapak Haryanto Bajoeri.

Awalnya Ismed sempat marah sekali dengan kenyataan tersebut, akan tetapi tidak membutuhkan waktu yang lama bagi saya untuk meluluhkan kembali hatinya, yang memang terkenal keras. Sayapun minta maaf atas keusilan tersebut, dan akhirnya kamipun menganggap peristiwa tersebut sebagai sebuah romantika kehidupan, sehingga membuat kami tertawa bersama hahahaha.

Beberapa waktu lalu, saya sempat meminta izin Ismed untuk menulis tentang cerita ini. Dan ejujurnya, saya tidak begitu berharap Ismed mengizinkan saya untuk menulis kisah tersebut. Akan tetapi tanpa saya duga, Ismed meberikan izin kepada saya untuk menulis cerita ini. Bahkan diapun sempat kembali memaki saya, ketika mengingat kisah yang cukup memalukan tersebut. Akan tetapi, pada akhirnya kamipun kembali tertawa terbahak-bahak saat menceritakan kembali kisah tersebut.

"Maafkan Daku Sobat"  Hahahahaha...

Akhir sekali ijinkan saya untuk mengucapkan, Selamat berakhir pekan untuk kita semua..

KESIMPULAN: Untuk alasan keamanan "KUNCILAH" ponsel anda menggunakan password agar barang tersebut terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan..





Dikutip dar "http://bambangpamungkas20.com/bepe/baca/artikel/klub/2011/10/22/111/maafkan-daku-sobat#.UWm770ohH9A"