Showing posts with label Cerita Islam. Show all posts
Showing posts with label Cerita Islam. Show all posts

Wednesday, June 15, 2016

Pertempuran Antara Iblis dan Umar bin Khattab



Semuanya pasti mengetahui bahwa keahlian dan hobinya Iblis adalah untuk menggoda manusia. Tapi, tahukah kalian bahwa ada seorang manusia digdaya yang paling ditakuti Iblis. Sampai-sampai ketika namanya saja disebut, maka iblis akan lari tunggang langgang. Tak hanya itu, setiap kali adalah tulisan namanya, iblis lari terbirit-birit seakan tak mau lagi berpapasan dengannya.

Siapakah beliau? Beliau adalah sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Umar bin Khattab.

Umar bin Khattab adalah salah satu orang yang mampu mengalahkan setan dalam pertempuran. Beliau adalah salah satu dari empat khalifah yang terkenal tegas, bijaksana dan ditakuti. Bagaimaan bisa Jin takut dengan sosok Umar bin Khattab? Berikut ini kisahnya…


Kisahnya

Pada suatu hari, di sebuah jalan di kota Madinah, Umar bin Khattab bertemu dengan salah satu jin yang mengaku dirinya paling kuat diantara kawan-kawannya. Tak berapa lama kemudian, perkelaian pun terjadilah antara Jin dan Umar bin Khattab. Dengan perlawanan yang singkat saja, jin bisa dikalahkan dengan mudah.

Meskipun sudah menerima kekalahan, namun iblis tersebut belum juga putus asa. Ketika kembali bertemu dengan Umar bin Khattab lagi, Umar bertanya kepada lelaki jin tersebut, "Kenapa lengan jin itu kurus mirip seperti lengan anjing?"

Jin menjawab, "Aku adalah jin yang paling kuat diantara jin sebangsaku."

Kemudian jin tersebut menantang Umar bin Khattab karena pada pertarungan pertama, jin kalah dari Umar sehingga ia merasa tidak puas sama sekali. Akan tetapi, Umar bin Khattab masih terlalu kuat dan tangguh untuk jin tersebut. Jin langsung terkapar setelah beberapa jurus saja.


Jin Dilepas dengan Syarat

Dalam sebuah riwayat, Umar bin Khattab sangat geram dengan ulah jin ini. Sehingga Umar bin Khattab berkata, "Aku tidak akan melepaskanmu kecuali kalian memberitahukan kepadaku sesuatu yang bisa melindungi dari kalian."

Dengan sangat ketakutan, jin menjawab dengan tegas dan pasti, "Ayat Kursi."

Karena jin sudah memberitahukan bagaimana cara manusia untuk melindungi diri dari iblis, maka Umar bin Khattab pun melepaskannya. Sungguh hebat sahabat Nabi SAW yang satu ini, selain disegani oleh manusia, namun juga disegani oleh bangsa jin.




Sumber:
http://kisahislamiah.blogspot.co.id/2015/12/pertempuran-antara-iblis-dan-umar-bin.html

Thursday, June 9, 2016

Kisah Anjing Penghuni Gua



Dikisahkan, ada sebuah kota yang bernama kota Ephese dipimpin oleh seorang Raja yang bernama Dikyanus. Raja Dikyanus beserta rakyatnya tidak mau menyembah Allah. Mereka malah memuja dan menyembah berhala. Nah, di kota Ephese ini banyak sekali dijumpai anjing. Bahkan sangking banyaknya, keberadaan anjing di kota Ephese dianggap sangat mengganggu. Warga Ephese sering terganggu tidurnya karena gonggongan anjing-anjing tersebut sepanjang malam. Bukan hanya itu saja, anjing-anjing tersebut sering mencuri makanan milik warga, menggigit anak-anak yang berada di luar rumah, serta mengotori tempat-tempat ibadah mereka. Agar anjing-anjing di kota Ephese dapat dikendalikan, maka Raja Dikyanus memutuskan untuk membunuh semua anjing yang ada. Alhasil, setiap hari ada saja bangkai anjing yang telah terbunuh.

Melihat anjing dijadikan sebagai musuh utama kota Ephese, maka ada seekor anjing kecil yang berusaha diselamatkan oleh ibunya di bawah puing-puing bangunan. Pada suatu hari, sang ibu anjing kecil tersebut sedang mencari makanan. Naas nasib si ibu anjing, ia terlihat oleh prajurit Dikyanus. Sang ibu berlari sekuat tenaga dan bersembunyi. Namun malang, para prajurit menemukan tempat persembunyiannya. Mereka memukuli ibu anjing hingga mati.

Sang anjing kecil yang telah mengetahui bahwa ibunya telah mati, merasa bersedih. Tapi rasa sedih itu segera terobati setelah tahu bahwa masih ada teman ibunya yang ingin mengasuhnya. Akhirnya sang anjing kecil diasuh dan disusui oleh teman ibunya tersebut. Teman ibunya itu selamat dari pembantaian karena bersembunyi di hutan. Anjing kecil dipelihara dengan penuh kasih sayang hingga besar. Untuk membalas kebaikan teman ibunya, ia menemani anjing itu sampai tua dan mati. Setelah itu, anjing kecil yang telah menjadi anjing dewasa ini hidup sendiri dan tetap tinggal di puing-puing bangunan.

Suatu ketika, anjing tersebut memperhatikan seorang pemuda yang memasuki bangunan tempat dia bersembunyi. Anjing itu merasa takut, dia mengira pemuda tersebut adalah prajurit Dikyanus. Setelah lama diperhatikan, ternyata perkiraannya salah. Pemuda tersebut ternyata datang sambil menggiring hewan ternak yang ditinggalkannya di luar. Setelah itu, pemuda tersebut melakukan gerakan seperti orang yang sedang beribadah. Tampaknya, agama yang dianut oleh pemuda ini berbeda dengan agama Raja Dikyanus.

Dengan perasaan takut dan penasaran, anjing tersebut mencoba mendekati pemuda ini. Terdengar pemuda itu memuji-muji Allah dan berdoa kepada-Nya. Anjing itu mulai duduk di samping pemuda itu sampai pemuda itu selesai beribadah.

Selesai melakukan ibadah, pemuda itu mengeluarkan roti dan sepotong daging dari tasnya. Bau daging benar-benar membuat lapar anjing itu, apalagi sudah beberapa hari ini perutnya belum terisi makanan.

Anjing itu terus menatap pemuda itu sambil sekali-kali menggonggong lirih. Akhirnya, pemuda itu melihat si anjing dan memberikan sedikit daging bekalnya kepada anjing itu. Tetapi, tetap saja, meskipun dalam hati ingin mengambil daging itu, anjing itu masih takut untuk mendekati pemuda itu.

Melihat anjing itu merasa ingin tapi takut mendekat, akhirnya pemuda itu memutuskan untuk melemparkan daging itu. Dengan sigap, anjing itu menyambar daging yang diberikan pemuda itu, dan memakannya hingga tak tersisa. Setelah memakan daging itu, dalam hati sang anjing, ia ingin mengabdi kepada pemuda itu walau apapun yang terjadi.

Pemuda itu akhirnya pulang bersama dengan hewan ternaknya. Diam-diam, sang anjing membuntuti pemuda itu dari belakang. Saat pemuda itu tahu sang anjing mengikutinya, pemuda itu berusaha menghalau anjing itu. Tapi, anjing itu tetap mengikutinya.

Pemuda itu berjalan menuju istana Raja Dikyanus. Sebelum memasuki pintu istana, ia kembali menghalau anjing tersebut untuk menjauh. Tapi tetap saja anjing itu tidak mau menjauh dan tetap mengikuti pemuda itu. Akhirnya pemuda itu membiarkan anjing itu mengikutinya. Pemuda itu menyerahkan hewan-hewan ternaknya kepada penjaga istana.

Di dalam istana tersebut ada sebuah kebun yang sangat indah, di mana pinggir-pinggir kebun terdapat patung-patung yang berderet rapi. Tiba-tiba, anjing itu lari mendekati patung itu kemudian kencinglah anjing itu dibawah salah satu patung itu. Melihat hal itu, ada seekor anjing betina coklat yang mendekati anjing itu. Anjing betina itu menggonggong anjing tersebut bermaksud untuk mengusirnya. "Hai anjing asing! Patung yang kamu kencingi itu tuhannya Raja Dikyanus. jika sang raja tahu, kamu pasti akan dibunuhnya," kata anjing betina itu.

"Dimanakah kamu tinggal? Mengapa tubuhmu kurus sekali?"

"Aku tinggal di pelosok kota. Tubuhku kurus karena aku kurang makan."

"Jika kamu mau, masih ada daging jatah makan siangku. Silahkan, makan semua daging itu!"

"Tapi, kamu jangan menggonggong, ya. Aku khawatir dituduh mencuri," pinta anjing itu. Dengan lahapnya, semua daging makan siang anjing betina dihabiskan dalam sekejap.

Sebelum pemuda itu meninggalkan istana, Raja Dikyanus memanggil pemuda itu. Raja Dikyanus bertanya kepada pemuda itu,"Hai pemuda, aku tidak pernah melihatmu menyembang berhala seperti kami. Jika kamu mempunyai sesembahan lain selain tuhan-tuhan kami, kamu akan kusiksa sampai mati! Aku pun sering melihatmu bercakap-cakap dengan menteriku. Ada hubungan apa engkau dengan menteriku?"

"Baginda, aku bercakap-cakap dengannya karena ia sering memesan daging kepadaku,"jawab pemuda itu.

"Bukankah menteriku itu tidak suka makan daging?"kata raja. Dengan tenang pemuda itu menjawab,"Baginda, memang sang menteri tidak suka makan daging, tetapi keluarganyalah yang suka makan daging." Sang raja pun tidak memperpanjang pertanyaannya lagi. Ia membayar hewan ternak yang dijual pemuda itu dan membiarkannya pergi.

Pemuda itu pulang disertai anjing tadi. Sesampai di rumah, pemuda itu memberikan kalung tembaga kepada anjing itu dan memakaikannya. Saat itulah anjing itu tinggal bersama pemuda itu. Tengah malam, pemuda itu keluar dari rumahnya. Anjing itu pun mengikutinya. Tibalah mereka di sebuah bukit, ada enam pemuda yang sudah menantinya. Mereka saling bersalaman dan berpelukan.

Pemuda itu berkata kepada salah seorang dari mereka,"Wahai Menteri, sang raja mulai mencurigai kita. Sebaiknya kita segera meninggalkan kota ini. "

“Aku rasa mata-mata Dikyanus telah mengetahui keimanan kita kepada Allah. Jika ia melaporkannya, kita pasti dibunuhnya atau dipaksa menyembah berhala." Sang menteri itu menjawab.

"Kita tunggu saja sampai besok. Jika Dikyanus memang sudah mengetahuinya, kita harus secepatnya meninggalkan kota ini. Lalu, kita bersembunyi di sebuah gua yang tidak jauh dari bukit ini. Mudah-mudahan Allah melindungi kita semua," jawab pemuda itu. Akhirnya mereka pun pulang ke rumah masing-masing.

Sang raja marah mendengar laporan mata-matanya. Ia memerintahkan kepada para prajurit menangkap ketujuh orang itu. Para prajurit mengobrak-abrik rumah penduduk untuk mencari ketujuh orang itu. Sementara itu, si pemuda beserta anjing itu dan keenam sahabatnya sudah berada di dalam gua. Mereka pun bersama-sama berdoa,"Ya Allah, berikanlah rahmat-Mu kepada kami, dan berikanlah kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami."

Saking lelahnya, mereka pun tertidur dengan lelap. Sedangkan anjing itu berjaga-jaga di muka gua. Tapi, rasa kantuk berat pun juga melanda anjing itu, hingga anjing itupun tertidur pula. Ketika bangun, anjing itu terkejut melihat bulunya telah memanjang sedemikian rupa. Dia terheran-heran, bukankah dia hanya tidur semalam, mengapa bulunya telah memanjang. Anjing itu pun menggonggong-gonggong berusaha membangunkan seluruh penghuni gua. Anjing itu kembali terkejut ketika mendapati janggut mereka pun panjang sampai ke kaki. Demikian pula rambut mereka tergerai hingga menyentuh tanah. Mereka pun bertanya-tanya,"Mengapa kita sampai seperti ini? Seakan-akan kita sudah tidur selama ratusan tahun!" 

Tapi salah seorang diantara mereka menyanggahnya, karena mereka juga merasa baru tidur hanya semalam saja. Mereka pun saling berdebat mempertengkarkan tentang lamanya tidur mereka. Akhirnya, salah satu dari mereka pun menengahi, bukankah mereka lebih baik memperoleh makanan. Mereka pun memilih pemuda itu membeli makanan. Pemuda itu mengajak anjing itu. Sebelum mereka pergi meninggalkan gua, mereka berpesan,"Kawan, berhati-hatilah! Jangan sampai diketahui Dikyanus dan para prajuritnya!"

Di sepanjang perjalanan mereka, banyak orang yang terheran-heran bahkan mereka cenderung ketakutan melihat penampilan kami. "Siapakah orang itu? Mengapa janggutnya panjang sekali? Perhatikan pula bulu anjingnya juga sangat panjang!"

Pemuda itu memasuki sebuah warung untuk membeli daging dan roti. Ia menyerahkan satu keping uang emas. Uang emas itu merupakan hasil penjualan hewan ternaknya kepada Raja Dikyanus. Ketika penjual roti melihat mata uang itu, ia kaget, lalu berkata,"Tuan, ini mata uang kuno! Dari mana Anda mendapatkannya? Apakah Anda baru menemukan harta karun?"

Orang-orang pun mengerumuni pemuda itu. Mereka ingin tahu apa yang telah terjadi. Dari cerita yang disampaikan, tahulah mereka bahwa pemuda itu adalah salah seorang dari tujuh orang beriman yang bersembunyi dalam gua. "Sekarang kalian jangan takut karena Raja Dikyanus yang kejam itu sudah meninggal lebih dari tiga ratus tahun yang lalu. Sekarang, kita dipimpin oleh seorang raja yang beriman kepada Allah seperti kalian," kata mereka. Setelah mendengarkan penjelasan orang-orang itu, pemuda beserta anjingnya kembali ke gua.

Kisah kembalinya ketujuh orang itu sampai kepada Raja Ephese yang baru. Ia beserta para menterinya mendatangi mereka. Sang raja meminta mereka untuk tinggal di istananya. Namun, mereka menolaknya karena tidak ingin hidup bermewah-mewah. Mereka lebih suka tinggal di dalam gua untuk beribadah kepada Allah.

Tidak lama setelah itu, Allah mewafatkan ketujuh orang penghuni gua itu bersama anjingnya. Untuk mengenang mereka, Raja Ephese membuat tempat ibadah di atas gua itu. Peristiwa yang dialami para penghuni gua bersama anjingnya adalah salah satu tanda kebesaran Allah. Bahwa Allah berkuasa menidurkan hamba-hambanya selama tiga ratus sembilan tahun dan membangunkannya kembali. Subhanallah.



Sumber:
http://www.anaksaleh.com/kisah-islami/cerita-al-quran/3-kisah-anjing-penghuni-gua.html


Tuesday, July 8, 2014

Nabi Muhammad SAW & Pengemis Yahudi

Suatu hari Sahabat Abubakar RA berkunjung ke rumah anaknya yang juga Istri Nabi Aisyah RHA. Saat itu Nabi Muhammad SAW sudah tiada. Kepada Aisyah, Abubakar bertanya apakah kebiasaan yang biasa dilakukan Nabi, yang belum pernah dikerjakannya.

Kepada ayahnya itu, Aisyah mengatakan semua sunnah Nabi sudah dilakukan, namun ada satu yang belum pernah dilakukan Abubakar. Kebiasaan Nabi yang luput dilakukan Abubakar itu adalah; setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke pasar kota Madinah dan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi di sana.

Abubakar yang penasaran, keesokan harinya berniat melakukan kebiasaan Nabi itu. Dia pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis Yahudi yang diceritakan Aisyah. Dia menemukan pengemis Yahudi itu disudut pasar. Ternyata pengemis Yahudi itu adalah seorang pengemis buta yang selalu berteriak menghina dan menghujat Rasulullah.

Tiap hari pengemis itu berteriak lantang kepada orang-orang : "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya". Hujatan itu selalu diteriakkan pengemis itu sepanjang hari.

Melihat itu, Abubakar heran mengapa Nabi memberi makan orang yang menghinanya setiap hari. Namun Abubakar tetap mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan. Dia ingin menirukan perbuatan baik yang dilakukan Nabi sebagaimana yang diceritakan Aisyah.

Saat Abubakar mulai menyuapi, tiba-tiba pengemis itu marah sambil berteriak. Dia menanyakan siapa yang menyuapinya. Abubakar mengatakan dia adalah orang yang biasa menyuapi setiap hari. Namun pengemis buta itu tidak percaya. Meski Abubakar meyakinkan dirinya yang membawakan makanan setiap hari tetap saja pengemis itu tidak percaya.

Pengemis Yahudi itu mengatakan yang biasa membawakan makanan dan menyuapinya jauh lebih lembut dan sabar dalam menyuapi. Pengemis itu berkata jika yang biasa menyuapinya datang, tidak susah tangan pengemis itu memegang, dan tidak susah pula mulutnya mengunyah.

"Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut," ujarnya. Orang yang biasa datang itu juga sangat sabar membantu makan sampai selesai dan kenyang.

Mendengar hal itu Abubakar pun menangis. Dia terharu dengan kebaikan Nabi yang meski dihujat tetap memberikan makanan dengan sangat baik kepada pengemis yang menghujatnya. Lalu Abubakar mengatakan pada pengemis itu bahwa dirinya memang bukan orang yang biasa datang.

Dia mengatakan bahwa dirinya hanya salah satu dari sahabat orang yang biasa datang, dia datang menggantikan karena orang yang biasa datang itu telah meninggal.

Kemudian Abubakar memberitahu pengemis itu bahwa orang yang biasa datang itu adalah Nabi Muhammad yang selalu dihujat pengemis itu. Pengemis Yahudi itu pun kaget dan menangis. Dia mengaku malu dan tidak menyangka orang yang selalu dihujatnya adalah Rasulullah, orang yang setiap hari memberinya makan dan menyuapinya dengan lembut dan sabar.

Pengemis itu pun tersentuh dengan kemuliaan Nabi dan mengaku menyesal atas perbuatannya selama ini. Di hadapan Abubakar dia pun menyatakan masuk Islam dan bersyahadat bahwa; tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.










Sumber: http://jagadbebas.blogspot.com/2013/12/kisah-inspirasi-islam-nabi-muhammad-saw.html      

Saturday, June 28, 2014

Kisah Keajaiban Sedekah

Suatu malam gadis itu sedang makan. Tiba-tiba datanglah seorang pengemis yang berdiri di ambang pintu. Berikan aku sedekah semata-mata karena Allah meskipun hanya sepotong roti. Ucap pengemis itu dengan wajah berseri-seri.

Gadis itu segera beranjak dan menghampirinya. Ia memberikan sepotong roti kepada pengemis itu dengan ikhlas. Senyumnya menandai betapa ia sangat senang memberikan sepotong roti kepada orang yang jauh lebih membutuhkan daripada dirinya. Bersamaan dengan itu, ayahnya yang kikir baru saja datang dari bekerja. Rupanya sang ayah mengetahui perbuatan ankanya yang dianggap sangat keterlaluan. Ia melotot dan memarahi anak gadisnya.

Setelah memarahi habis-habisan, dengan emosi yang tak terkontrol, sang ayah kemudian bergegas pergi ke dapur dan mendapatkan pisau yang tajam. Sebentar saja pisau itu sudah sampai di hadapan anaknya. Dipegangnya tangan kanan anak itu dan dengan serta merta pergelangannya dipotong. Sang ayah rupanya tak mau peduli apakah anaknya akan cacat atau tidak.

Tak lama kemudian usaha orang kaya itu bangkrut. Semakin lama semakin menurun dan akhirnya benar-benar menjadi orang miskin. Hutangnya menjadi banyak dan membebani pikirannya sepanjang hari dan malam. Bekas orang kaya itu jatuh sakit dan akhirnya meninggal dunia. Beberapa waktu setelah itu, istrinya pun meninggal dunia pula.
  

Kini gadis itu menjadi sebatang kara. Sementara itu, perekonomian di negeri Israil kembali pulih. Orang-orang yang sebelumnya miskin kini menjadi makmur. Dan gadis itu terpaksa menjadi pengemis demi menopang kebutuhan hidupnya.

Suatu ketika ia berdiri di depan rumah bagus dan mewah. Ia berharap pemilik rumah kaya itu memberi sepotong roti atau apa saja yang dapat dimakan untuk mengganjal perutnya.
  

Sesaat kemudian keluarlah seorang wanita setengah baya dan menghampiri gadis tersebut. Ia memandangi gadis itu dengan penuh simpati. Akhirnya, gadis itu kemudian diambil anak angkat. Wanita pemilik rumah mewah itu diam-diam mempunyai rencana untuk menjodohkannya dengan anak lelakinya yang pergi merantau ke negeri orang dan tak kunjung mengirimkan kabar.

Setelah anaknya pulang, segeralah gadis itu dikawinkan dengannya. Mereka menggelar pesta meriah dan mengundang kenalannya yang rata-rata orang kaya dan pejabat di negeri itu.
  

Di tengah pesta perkawinan yang digelar, sang pengantin laki-laki merasa kurang senang melihat ulah istrinya yang dianggap kurang sopan, karena makan dengan tangan kiri. Pengantin laki-laki berusaha menegurnya. Tetapi pengantin wanita itu tetap merasa sulit karena selama ini ia menyembunyikan cacat tangannya sehingga tak seorang pun tahu.

Tiba-tiba terdengar suara dari luar, Keluarkanlah tangan kananmu. Sungguh, engkau pernah bersedekah sepotong roti dengan ikhlas karena Allah. Maka tanganmu sempurna kembali seperti semula!

Mendengar suara tersebut, terpaksa pengantin wanita mengeluarkan tangan kanannya. Terjadilah suatu keajaiban: telapak tangannya yang terputus itu berubah seperti sediakala. Pengantin wanita itu sangat heran melihat kejadian yang sangat menakjubkan itu.
  

Itulah keberuntungan orang yang ikhlas bersedekah, walau hanya sebatas roti. Sungguh balasan Allah jauh lebih besar dari apa yang kita bayangkan. Kedermawanan seorang gadis dalam kisah di atas menunjukkan bahwa sedekah merupakan wujud dari kepedulian sosial yang penting dikedepankan

Petikan didalam kitab Tanbihul Ghafilin dijelaskan juga bahwa sedekah itu tidak hanya membawa keberuntungan di akhirat saja sebentuk keyakinan yang dianggap abstrak oleh kebanyakan orang. Akan tetapi di dunia pun banyak keberuntungan-keberuntungan yang luar biasa dahsyat.







 



Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com/2013/01/kisah-keajaiban-sedekah.html

Kisahnya Nabi Musa Ingin Melihat Tuhan

Pada suatu ketika Nabi Musa telah memenuhi panggilan Allah subhana wa Ta'ala. Beliau naik ke gunung sinai (Thursina) setelah beliau menyempurnakan 40 malam yang diisi dengan puasa dan beribadah sendirian diatas gunung itu. Allah SWT pun berfirman dan menurunkan Taurat kepada beliau. 

Kemudian Nabi Musa as pun sangat rindu untuk melihat wajah Sang Kekasih yang telah berkata-kata kepada nya, wajah Rabb nya. 

" Dan tatkala Musa datang menurut waktu yang telah kami tentukan . Dan telah berfirman Rabb nya kepadanya : berkatalah ia, ya Rabb perlihatkanlah (dirimu) keapadaku , agar aku dapat memandang Engkau"

Berkatalah Allah : Engkau sekali-kali tidak akan mampu melihatku, tetapi arahkanlah pandangan engkau ke gunung itu. Maka jika ia tetap pada tempatnya , niscaya engkau dapat melihatku. 

Setelah mendengar permintaan Nabi Musa as itu, kemudian Allah SWT berfirman : "Wahai putra Imran, sesungguhnya tidak akan ada yang sanggup untuk melihat KU, kemudian ia mampu untuk tetap hidup. " 

Nabi Musa as berkata : Ya Rabbi, tidak ada sesuatupun yang menyekutui MU, sesungguhnya melihat MU dan kemudian mati itu lebih aku sukai daripada aku terus hidup tanpa melihat MU. Rabbi, sempurnakanlah nikmat, anugerah dan hikmat MU kepada ku dengan mengabulkan permohonanku ini, setelah itu aku rela mati " 

Ibnu Abbas ra, sahabat Rasulullah saw meriwayatkan bahwa ketika Allah SWT mengethaui Nabi Musa as ingin dikabulkan, maka berfirman Allah : " Pergilah engkau, dan lihatlah batu di atas puncak gunung itu, duduklah engkau diatas batu itu, kemudian Aku akan menurunkan bala tentara KU kepada mu. "

Dan ketika telah sampai di puncak batu tersebut, maka Allah pun menurunkan bala tentaranya, para malaikat hingga langit ketujuh, untuk menampakkan diri kepadaya. Diperintahkan para malaikat penghuni langit untuk menampakkan diri di hadapan nabi MUsa as. sambil mengeraskan suara tasbih, tahlil mereka, bagaikan suara petir yang menyambar-nyambar. 

Kemudian para malaikat penhuni langit kedua diperintahkan menampakkan diri, dengan warna dan bentuk yang beraneka ragam, mereka bersayap dan memiliki raut muka, diantaranya ada yang berbentuk seperti singa. Berlalu di hadapan Nabi MUsa sambil mengeraskan suara -suara tasbihnya. 

Mendengar teriakan-teriakan tersebut, Nabi Musa merasa ngeri dan kemudian berkata : Ya Rabi, sungguh aku menyesal atas permohonanku. Apakah engkau berkehendak untuk menyelamatkanku dari tempat ini ? 

Pimpinan dari kelompok malaikat tersebut berkata :
Hai Musa, bersabarlah atas apa yang engkau minta, apa yang engkau lihat ini baru sebagian kecil saja.


Allah SWT memerintahkan para penghuni langit ketiga turun. Lalu keluarlah malaikat-malaikat yang tak terhitung jumlahnya dengan aneka ragam bentuk dan warnanya. Ada yang seperti api yang menjilat-jilat, mereka memekikkan tasbih, tahlil dengan suara hiruk pikuk menggelegar. 

Nabi Musa semakin berputus asa. dan kelompok malaikat itu berkata : wahai Musa, bersabarlah hingga engkau tidak akan sanggup lagi untuk melihatnya. 

Kemudian penghuni langit keempat turun.
Ada yang berbentuk seperti kobaran api yang menjilat-jilat, ada pula yang seperti salju. Dengan suara melengking mereka memekikkan tasbih dan tahlil. 


Demikianlah , Penghuni dari setiap langit turun satu demi satu. Semua malaikat tersebut bergerak maju sambil cahayanya menyambar semua mata yang ada. Mereka datang membawa tombak yang sangat panjang dan lebar. Tombak-tombak itu bagaikan api yang bersinar terang benderang melebihi sinar matahari.

Nabi Musa as menangis dan meratap. Ya Rabbi, ingatlah aku, jangan Engkau lupakan diriku. Aku adalah hamba Mu. Aku tidak mempunyai keyakinan bahwa aku akan selamat dari tempat ini. Jika aku keluar maka aku akan terbakar, jika aku masih disini aku akan mati. 

Ketua para malaikat itu pun berkata : Nyaris dirimu dipenuhi ketakutan dan nyaris hatimu terlepas wahai Musa. Tempat yang engkau gunakan untuk duduk adalah tempat yang akan engkau pergunakan untuk melihat Rabb. 

Kemudian turunlah malaikat Jibril as, Mikail as dan Israfil as, beserta seluruh malaikat penghuni langit ketujuh, termasuk pemikul Al Arsy dan Al Kursi. Mereka secara bersama-sama menghadap kepada Nabi Musa as sambil berkata : 

Wahai orang yang terus menerus salah. Apa yang menyebabkanmu naik ke atas bukit ini. Mengapa engkau memberanikan diri meminta Rabbmu untuk dapat melihat Nya ? Nabi Musa as gemetar hingga kedua lututnya seakan-akan luruh dari persendian. 

Ketika Allah SWT melihat itu, maka ditampakkanlah tiang-tiang penyangga Al Arsy, lalu Nabi Musa as bersandar pada salah satu tiang tersebut hingga hatinya tenang.

Malaikat Israfil berkata : Hai MUsa, demi Allah, kami ini sekalipun pemimpin para malaikat, sejak kami diciptakan kami tidak berani mengangkat pandangan mata kami ke arah Al Arsy. Karena kami sangat khawatir dan sangat takut kepada Rabb. Mengapa engkau berani melakukan ini wahai hamba yang lemah ? 

Setelah hatinya tenang, Nabi Musa menjawab : Wahai Israfil, aku hanya ingin mngetahui akan Keagungan Wajah Rabb ku yang selama ini aku belum pernah melihatnya. 

Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu kepada langit : AKU akan menampakkan Diri, bertajali pada gunung itu 

Maka begetarlah seluruh langit dan bumi, gunung, matahari, bulan, mega, surga , neraka, para malaikat dan samudera. Semua bersungkur sujud, sementara Nabi Musa as masih memandang ke arah gunung itu. 

Tatkala Rabbnya menampakkan diri diatas gunung , maka hancur luluhlah gunung itu dan nabi Musa pun jatuh pingsan.
Nabi MUsa as seakan -akan mati karena pancaran Cahaya Allah SWT yang Mulia dan ia terjatuh dari batu dan batu itu sendiri terjungkal terbalik menjadi semacam kubah yang menaungi nabi Musa as agar tidak terbakar Cahaya.


Kemudian Allah mengutus malaikat Jibril as untuk membalikkan batu itu dari tubuh nya. Wajah nabi Musa as memancarkan cahaya kemuliaan, rambutnya memutih karena cahaya. 

"Maka setelah Musa tersadar kembali, dia berkata: Maha Suci Engkau , aku sungguh bertaubat kepada MU dan aku adalah orang yang pertama kali beriman
(QS. Al-A'raf). 


Nabi Musa punn berkata,
"Saya beriman, bahwa sesungguhnya tidak ada seorangpun yang mampu melihat Mu ya Allah dengan mata lahir, kecuali ia akan mati."


 





Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com/2013/01/kisahnya-nabi-musa-ingin-melihat-tuhan.html

Asal Muasal Lafadz Azan

Tahukah kalian asal muasal AZAN yang dikumdangkan oleh Mu'azin setiap lima waktu tanda peringatan bahwa kala itu sedang memasuki waktu shalat. Ternyata azan ini berasal dari mimpi sahabat Rasulullah SAW.
Kalimat demi kalimat dalam azan awalnya berasal dari mimpi seorang sahabat, dan ketika mimpi itu diceritakan kepada Rasulullah SAW, Beliau menyetujuinya. 


Sebab-Sebab Dikumadangkannya Azan.
Allah SWT berfirman,
وَإِذَا نَادَيْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ اتَّخَذُوهَا هُزُوًا وَلَعِبًا ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لا يَعْقِلُونَ ٥٨
Artinya:
"dan apabila kamu menyeru (mereka) untuk (mengerjakan) sembahyang, mereka menjadikannya buah ejekan dan permainan. yang demikian itu adalah karena mereka benar-benar kaum yang tidak mau mempergunakan akal."
(QS. Al Maidah: 58).


Ayat tersebut di atas sekaligus menjadi sebab turunnya azan sebagai pertanda penggilan shalat. Disebutkan pada masa berkembangnya Islam di Madinah, penduduk setempat tersebar di seluruh kota. Kesibukan yang tinggi dikhawatirkan menjadi potensi lupa atau kelalaian untuk melaksanakan shalat pada waktunya.
Kalau initerjadi terus menerus, maka ini menjadi satu persaoalan yang cukup berat yang pertlu segera dicarikan jalan keluarnya.

Lafadz Azan


Sahabat Bermimpi.
Kondisi ini membuat para sahabat bermusyawarah untuk menentukan cara yang paling baik yang dapat digunakan sebagai pertanda waktu shalat telah datang.
Menurut kisah, pada awalnya Rasulullah SAW menyetujui bunyi lonceng sebagai pertanda shalat, namun pada akhirnya beliau tidak menyukai karena lebih mirip pada orang-orang Nasrani.


Dijelaskan Abdullah bin Zaid, pada suatu malam ketika ia tidur, tiba-tiba bermimpi bertemu dengan seorang laki-laki yang menggunakan pakaian hijau. Laki-laki itu mengelilinginya dengan membawa lonceng di tangannya.
Abdullah bin Zaid lalu menegurnya,


"Hai hamba Allah, apakah lonceng ini akan kamu jual?" tanyanya.
"Akan kamu pergunakan untuk apa lonceng ini," jawab laki-laki itu.
"Akan aku pakai untuk memanggil orang untuk shalat," ujar Abdullah.
Laki-laki itu terdiam sesaat lalu memberikan saran kepada Abdullah.
"Maukah engkau aku tunjukkan cara yang lebih baik dari itu?" tanya laki-laki itu.
"Baiklah, tunjukkan kepadaku," jawab Abdullah.


Laki-laki itu lantas mengucap azan yang diawali dengan Allahu Akbar dan diakhiri dengan Laa Ilaaha Illallah.



Rasulullah SAW Menyetujui Mimpi Sahabat itu
Setelah mengalami mimpi itu, pagi harinya Abdullah menemui Rasulullah SAW dan menyampaikan mimpi tersebut. Kemudian Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya mimpi kamu itu adalah mimpi yang benar, Insya Allah, berdirilah bersama Bilal dan sampaikanlah kepadanya apa yang kamu impikan, karena Bilal itu lebih keras suaranya daripada kamu."


Lalu Abdullah menemui Bilal dan menyampaikan kepadanya apa yang dimimpikan itu. Kemudian Bilal pun melakukan Azan dengan kalimat-kalimat itu. Suara azan Bilal itu terdengar keras ke penjuru kota, lalu tidak alam kemudian Umar bin Khattab yang semula di rumah mendadak ke luar sambil membawa selendangnya.

Mendengar suara azan itu, Umar bin Khattab bersumpah atas nama Allah bahwa kalimat dalam azan itu juga ia mimpikan semalam.
"Demi Allah, yang telah mengutus Muhammad dengan benar. Sungguh akupun telah mimpi, persis seperti yang ia impikan," kata Umar bin Khattab.
Lalu Rasulullah SAW mengucapkan," Alhamdulillah."
(HR. Abu Dawud).  






Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com/2013/01/asal-muasal-lafadz-azan.html

Tubuh Rasulullah SAW Dilindungi Petir

Pada zaman Rasulullah SAW, tidak sedikit sahabat yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri tentang kehebatan mukjizat beliau yang spektakuler adalah tubuhnya memancarkan nyala api dan petir sebagai tameng dari serangan lawan yang hendak membunuhnya. 

Dikisahkan, Rasulullah SAW berangkat menuju medan Perang Hunain. Diantara yang ikut serta dalam pasukan kafir, ada seorang lelaki yang bernama Syaibah bin Usman bin Thalhah, yang ayah dan pamannya terbunuh dalam Perang Uhud. Oleh karena itu, keikutsertaan Syaibah dalam Perang Hunain adalah untuk membalas dendam atas kematian bapak dan pamannya di Perang Uhud.

Sasaran utama Syaibah adalah membunuh Rasulullah SAW. Ketika Syaibah mengetahui Rasulullah SAW turut serta dengan pasukan Islam dalam Perang Hunain, dirinya pun ikut bergabung dengan pasukan kafirQuraisy menuju suku Hazawin. Harapannya bila perang sudah berkecamuk, dirinya akan mencari kesempatan dan menunggu saat yang tepat untuk membunuh Rasulullah SAW. Dengan demikian, dirinya dapat menyelesaikan balas dendam kaum kafir Quraisy terhadap Rasulullah SAW.  

Syaibah telah memperhitungkan rencananya dengan matang agar jangan sampai gagal. Pedangnya pun dibawa dan telah diasah tajam hingga nanti dapat sekali tebas kepala Rasulullah SAW langsung pisah dari badannya. Hari yang ditunggu pun tiba. Perang sedang berkecamuk dengan hebatnya dan Syaibah terus mengintai gerak gerik Rasulullah SAW karena dialah sasaran utamanya. 

Akhirnya, tibalah saat yang ditunggu oleh Syaibah. Sebab di saat orang-orang Islam prak poranda dan bercerai berai oleh serangan gencar pasukan panah kaum kafir yang bertubi-tubi, membuat pasukan Islam tak mampu melindungi Rasulullah SAW. Maka, Syaibah langsung mengeluarkan pedangnya sambil mendekati Rasulullah SAW. Setelah mendekat, serangan pun dilancarkan.

Tiba-tiba saja ada nyala api keluar daru tubuh Rasulullah SAW seperti petir yang menyambar-nyambar dan nyaris menyambar wajah Syaibah. Petir itu seakan melindungi tubuh Rasulullah SAW dari serangan Syaibah. Melihat kejadian itu, Syaibah langsung menutup wajahnya karena rasa takut. Dirinya pun langsung berlari menjauhi Rasulullah SAW. Namun justru Rasul memanggil Syaibah,"Wahai Syaibah, datanglah kemari," ujar Rasulullah SAW.

Dengan perasaan takut, Syaibah pun mendekat. Rasulullah SAW lalu meletakkan tangannya di dada Syaibah. Rupanya beliau mengerti kalau Syaibah ketakutan dan gemetaran. Beliau mengusap-usap dada Syaibah seraya berdoa,
"Y Allah, lindungilah dia dari bisikan setan." 


Pada saat itu juga, tak ada yang lebih dicintai oleh telinga, mata, dan segenap jiwa Syaibah kecuali Rasulullah SAW. Perasaan benci dan dendam kepada Rasulullah SAW tiba-tiba saja sirna berganti kecintaan yang luar biasa hebatnya. 

"Mari ikut berjuang bersama kami, "kata Rasulullah SAW.
Syaibah langsung berdiri tegak di hadapan Rasulullah SAW. Syaibah lantas melancarkan serangan balik menghantam kaum kafir yang memusuhi Rasulullah SAW dan para sahabat-sahabatnya.







Sumber: http://kisahislamiah.blogspot.com/2014/03/tubuh-rasulullah-saw-dilindungi-petir.html

Saturday, June 21, 2014

Kisah Thalut dan Jalut

Kisah ini terjadi sesudah zaman Nabi Musa di mana Bani Israil telah meminta kepada nabi mereka yaitu Nabi Samuel a.s untuk mengangkat seorang raja untuk memerangi Jalut yang telah mengusir mereka dari kampungnya. Mereka berkata kepada Nabinya:”Angkatlah untuk kami seorang raja supaya kami berperang (di bawah pimpinannya) di jalan Allah.” Nabi mereka menjawab: “Mungkin sekali jika kamu nanti diwajibkan berperang, kamu tidak akan berperang.” Mereka menjawab: “Mengapa kami tidak mau berperang di jalan Allah, padahal sesungguhnya kami telah diusir dari anak-anak kami?”. Maka tatkala perang itu diwajibkan atas mereka, merekapun berpaling, kecuali beberapa saja di antara mereka. Dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang zalim.”(QS. Al-Baqarah:246)

Kemudian, Nabi Samuel menyatakan bahwa Allah telah mengangkat Thalut, seorang petani dan peternak miskin dari desa, menjadi raja mereka, dan keputusan itu telah dibangkang sepenuhnya oleh mereka.
 “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.”(QS. Al-Baqarah:247)

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun .”(QS. Al-Baqarah:248). Dimana Tabut adalah suatu peti kayu yang berlapiskan emas.

Ketika Thalut membawa bala tenteranya sejumlah 80 Ribu orang (riwayat lain 300 Ribu orang) untuk melawan tentara Jalut termasuk didalamnya Nabi Daud a.s. Talut berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.”(QS. Al-Baqarah:249)

Tibalah mereka pada sebuah sungai antara Urdus (Jordan) dan palestin nafsu mereka mengalahkan segalanya. Banyak dari tentara Thalut melanggar perintah tersebut dengan meminum air sepuas-puasnya pada sungai tersebut. Dan tentara Thalut menyusut menjadi 319 orang (riwayat lain, 313) yang tetap taat terhadap perintah Thalut dengan minum secukupnya.

Setelah itu, mereka meneruskan perjalanan, Thalut dan orang-orang yang beriman bersamanya menyeberangi sungai itu, mereka yang tidak taat berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.”(QS. Al-Baqarah:249)

Namun, bagi mereka yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah pula berkata:”Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”(QS. Al-Baqarah:249)

Maka, semakin berkuranglah tentera Thalut yang terus berjuang. Mereka berhasil melewati ujian-ujian Allah. Mereka sangat kuat dan bersemangat. Mereka tidak seperti orang-orang yang luntur iman mereka, yang telah keluar sebelum sempat berhadapan dengan bala tentera Jalut.
Dan ketika mereka maju melawan Jalut dan tenteranya, mereka berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.”(QS. Al-Baqarah:250)

Meskipun dengan jumlah tentara yang sedikit, Thalut tetap maju melawan Jalut. Kedua pasukan pun bertemu dan terjadilah perang tanding satu lawan satu. Daud a.s juga mendapat giliran. Ia berani melawan Jalut, pemimpin pasukan lawan. Melihat sosok kecil Daud a.s, Jalut meremehkannya dengan menggertak, ” Enyahlah kau, aku tidak suka membunuh anak kecil.” Tidak mau kalah, Daud menyahut, ” Aku suka membunuhmu.” Serangan Daud ternyata merepotkan Jalut. Daud mampu mengalahkan, bahkan membunuh Jalut. Dengan demikian, pasukan Thalut memetik kemenangan. Keberhasilan Daud ini menjadi buah bibir di kalangan Bani Israil.

Setelah beberapa tahun berlalu Raja Thalut wafat dan akhirnya Allah memberikan kekuasaan pada Daud menggantikan Talut dan mengangkat Daud menjadi Nabi.
”Kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya .”(QS. Al-Baqarah:251)
Sumber: http://kisahislami.com/2012/10/30/kisah-thalut-dan-jalut/